Selasa, 22 Mei 2012

5 Tokoh Yang Menipu Dalam Sejarah


Kematian tokoh dan sosok yang dikenal orang banyak adalah sebuah kehilangan, terlebih sosok tersebut menghilang, tewas, secara misterius. Namun dibalik peristiwa tersebut, memberikan kesempatan terhadap mereka  yang terobsesi untuk menjadi sosok tokoh, seperti yang tercatat dalam daftar berikut:
 
1. Grigory Otrpyev

 


Ia adalah seorang penipu nomor satu yang tercatat dalam sejarah, bagaimana tidak ia mengaku sebagai anak bungsu dari Ivan IV Vasilyevich, Dimitriy Ioannovich, selama 21 Juli 1605 hingga kematiannya pada 17 Mei 1606.

Namun kemudian publik lebih percaya bahwa Dimitriy sebenarnya telah terbunuh di Kota Uglich, dan Dimitriy palsu ini bernama Grigory Otrpyev. Penipu ini mengaku bahwa ibunya adalah istri dari Tsar Ivan, telah mengantisipasi pembunuhan tersebut dan mengirimnya ke sebuah kuil untuk bersembunyi.

Sejumlah orang Rusia yang mengenal Tsar Ivan kemudian mengklaim bahwa memang Dimitriy muda menyerupai  tsaveris muda. Dimitriy digambarkan memiliki kemampuan aristokrasi pada umumnya, berkuda, berilmu pengetahuan dan berbicara baik bahasa Rusia maupun Polandia. Sejumlah pengikutnya adalah orang-orang terhormat mereka mendukung untuk melawan Tsar Gugonov.
Ketika Tsar Gugonov mati mendadak, pasukan Rusia berpihak kepadanya (Dimitriy), pada 1 Juni, pengikutnya memenjarakan raja yang baru dimahkotai, Feodor II dan ibu yang kemudian mereka dibunuh. Grigory kemudian mengangkan dirinya menjadi Tsar. Namun dikarenakan beredar rumor bahwa Grigory akan merubah Rusia menjadi sebuah negara katolik, ia pun mati ditembak mati.



2. Claude des Armoises

Beberapa penipu mengaku menjadi Joan of Arc, setelah kematiannya pada tahun 1431. Salah satu yang cukup sukses adalah Claude des Armoises, yang merupakan istri dari seorang ksatria, Robert des Armoises. Pada tahun 1436 ia mengklaim dirinya sebagai Jean of Arc,  terlebih didukung oleh saudara-saudaranya Joan.

 

Dia melakukan sebuah sandiwara  dan memerankan Joan hingga tahun 1436, mendapatkan berbagai hadiah dan subsidi. Sebuah catatan sejarah menyatakan, “di tahun ini telah datang seorang  perempuan muda, ia gadis dari Prancis, dan memainkan peranannya dengan baik sehingga banyak orang tertipu olehnya, khususnya para bangsawan” beberapa penulis modern mengulas kembali teks ini, dan menyatakan bahwa ada seseorang yang menggantikan Joan of Arc saat ia dieksekusi. Namun perkiraan ini sangat dangkal, dengan dinulifikasikan para saksi yang menghadiri eksekusi Joan of Arc.




3. Pseudo-Nero (Nero Palsu)

Setelah sang Kaisar Nero melakukan bunuh diri di sebuah desa para budak di Pahon, pada Juni 68 M. Setelah peristiwa tersebut banyak bermunculan Nero-nero palsu antara musim gugur tahun 69 M hingga pemerintahan Kaisar Domitian. Nero palsu yang pertama muncul di musim gugur atau di awal musim dingin tahun 69 M, Provinsi Achaia, sekarang dikenal dengan Yunani.



Nero memang beberapa kali pernah mengunjungi Yunani pada  (66-67M) untuk berpartisioasi dalam sebuah acara permainan Panhellenik, dan inilah yang mungkin dijadikan sebagai  bukti yang memperkuat penipuannya. Dan bahkan menurut peneliti sejarah penipu tersebut adalah seorang budak dari kota Pontus, ataupun budak dari Itali. Tidak banyak yang bisa diketahui sejarah hidup Nero palsu ini, dan hanya menyatakan bahwa Nero palsu mendekatinya bersama pasukan pembelotnya. Lalu mereka pergi ke laut, tempat ia memyatakan dirinya sebagai seorang Nero. Namun ia akhirnya ditangkap dan dipenggal.


4. Margaret Palsu

Margaret Palsu (1260-1301), seorag perempuan berkebangsaan Norwegia yang menyerupai Margaret, Gadis dari Norway. Margaret yang sebenarnya meninggal 1290, di Orkney, dan sang ayang Raja Eirik II dari Norwegia meninggal di tahun 1299,  yang dilakukan oleh adiknya sendiri, Hakon V. pada saat yang bersamaan datanglah seorang perempuan di Bergen, Norway, turun dari kapal yang berlayar dari Lübeck, Jerman.

 

Ia mengklaim dirinya sebagai Margaret, dan menyangkal segala sangkaan publik terhadap kematiannya.  Ia menyatakan bahwa dirinya tidak mati di Orkney, namun dikirimkan ke Jerman, tempat ia menikah. Beberapa orang di Kota dan termasuk agamawan mendukung pengakuannya, walaupun Raja Eirik mengidentifikasi mayat putrinya, dan walaupun perempuan tersebut nampak seperti berusia 40 tahun, padahal Margaret yang sebenarnya akan berusia 17 tahun. Margaret palsu serta suaminya kemudian terbukti melakukan sebuah penipuan,  sebagai sang suami dipengggal dan Margaret palsu dibakar.


5. Raictor

Raictor  adalah pendeta Ortodoks Timur yang berpura-pura sebagai Kaisar Michael VII, dari Kekaisaran Byzantin, dan berpartisipasi dalam misi Normandia yang dipimpin oleh Robert Guiscard untuk menghancurkan Kekaisaran Byzantin, yang saat itu dalam keadaan kacau.

 

Alexios I Komenos dijatuhkan oleh Nikephoros III Botaneiates dan juga diserang oleh sebuah invasi bangsa Balkan pimpinan Robert Guiscard, Duke of Apulia. Guiscard memanfaatkan kejatuhan Michael VII oleh Nikephoros III pada tahun 1078. Guiscard pun mengetahui bahwa Raictor bukanlah siapa-siapa, sehingga ia memanfaatkannya. Namun ketika Robert Guiscard merasa cukup puas atas apa yang didapatnya, Raictor pun disingkirkan secara perlahan-lahan.

Penyebab Kematian Yang Sangat Tidak Masuk Akal


Setiap makhluk hidup diciptakan untuk mati pada waktunya masing-masing. Ada kematian-kematian yang tak terduga yang penyebabnya hanya hal-hal remeh tapi bisa bikin nyawa melayang. Berikut adalah beberapa contoh kematian yang tak terduga tapi masih banyak lagi contoh lainnya yang mengingatkan agar manusia tetap harus hati-hati dan tidak menyepelekannya.



1. Mati karena saluran pembuangan (selokan)

Ini adalah kematian aneh, menyedihkan dan sangat tragis. Pada tahun 2008, seorang pria Kanada tewas setelah berusaha mengambil dompetnya yang dicuri dan masuk pada saluran pembuangan air (selokan). Dia menelepon polisi sebelum mengambil dompet tersebut di selokan. Tapi polisi menemukan kepala pria tersebut sudah terjepit di selokan beberapa meter di bawah jalan (selokan di bawah jalan raya). Ia sempat dilarikan ke rumah sakit, tapi kemudian nyawanya tak terselamatkan.

2. Mati karena deodoran

Pada tahun 1998, seorang anak laki-laki usia 16 tahun asal Inggris meninggal karena serangan jantung setelah terpapar uap deodoran (deodoran spray) terlalu banyak. Dia tampak terobsesi dengan kebersihan pribadi dan ingin selalu segar, jadi dia semprot seluruh tubuhnya dengan deodoran minimal dua kali per hari. Ia tidak pernah berpikir berada dalam bahaya. Hasil otopsi menemukan bahwa ada 10 kali lipat jumlah butana dan propana yang mematikan di aliran darahnya. Ternyata anak itu sering menggunakan deodoran di tempat yang sempit, padahal produk seperti itu direkomendasikan untuk digunakan di tempat berventilasi baik.

3. Mati karena jenggot

Banyak orang yang tercatat memiliki jenggot terpanjang, yang terbaru adalah seorang pria Kanada bernama Sarwan Singh yang memegang Guinness World Record karena memiliki jenggot terpanjang (2,36 m). Tapi tak ada satu pun orang yang bermasalah dengan memiliki jenggot panjang, kecuali seorang pria asal Austria pada pertengahan tahun 1500-an. Jenggot Hans Steininger hanya 1,4 m, tapi itu membuatnya mengalami kejadian buruk. Hans diketahui selalu menggulung jenggotnya di dalam tas, tetapi suatu hari pada tahun 1567 ia tak sempat melakukan ritual tersebut. Ketika sebuah kebakaran terjadi di kota, ia tersandung karena jenggotnya saat mencoba menyelamatkan diri. Dilaporkan bahwa lehernya patah dan tewas pada kebakaran tersebut.

4. Mati karena domba lapar

Domba adalah makhluk yang sangat jinak dan diketahui bahwa hewan berbulu lebat tersebut adalah
pemakan rumput. Sayangnya, pada tahun 1999, Betty Stobbs, seorang wanita di Inggris menemukan bahwa domba juga dapat memiliki sisi agresif jika sudah cukup lapar. Di suatu malam, ketika Stobbs akan memberi makan domba peliharaannya, kawanan domba tersebut justru mengejar Stobbs yang sedang berada di all-terrain vehicle (ATV). Ia terjatuh dan tertimpa oleh kendaraan tersebut.

5. Mati karena pakai bra kawat
 
Dua wanita di London, Inggris, pada tahun 1999 dilaporkan meninggal karena menggunakan bra kawat. Bukan bra yang mencekik dua wanita tersebut, melainkan kawat di dalam bra yang bertindak sebagai konduktor yang menghantarkan arus listrik. Dilaporkan bahwa dua wanita tersebut tewas terbakar karena tersambar petir tepat di kawat di dalam bra-nya. Dada kedua wanita tersebut terlihat hangus terbakar dan membuat mereka tewas seketika.

Asal Mula Kedatangan Agama Hindu di Indonesia

Masuknya agama Hindu ke Indonesia terjadi pada awal tahun Masehi, ini dapat diketahui dengan adanya bukti tertulis atau benda-benda purbakala pada abad ke 4 Masehi denngan diketemukannya tujuh buah Yupa peningalan kerajaan Kutai di Kalimantan Timur. Dari tujuh buah Yupa itu didapatkan keterangan mengenai kehidupan keagamaan pada waktu itu yang menyatakan bahwa: “Yupa itu didirikan untuk memperingati dan melaksanakan yadnya oleh Mulawarman”. Keterangan yang lain menyebutkan bahwa raja Mulawarman melakukan yadnya pada suatu tempat suci untuk memuja dewa Siwa. Tempat itu disebut dengan “Vaprakeswara”.
Masuknya agama Hindu ke Indonesia, menimbulkan pembaharuan yang besar, misalnya berakhirnya jaman prasejarah Indonesia, perubahan dari religi kuno ke dalam kehidupan beragama yang memuja Tuhan Yang Maha Esa dengan kitab Suci Veda dan juga munculnya kerajaan yang mengatur kehidupan suatu wilayah. Disamping di Kutai (Kalimantan Timur), agama Hindu juga berkembang di Jawa Barat mulai abad ke-5 dengan diketemukannya tujuh buah prasasti, yakni prasasti Ciaruteun, Kebonkopi, Jambu, Pasir Awi, Muara Cianten, Tugu dan Lebak. Semua prasasti tersebut berbahasa Sansekerta dan memakai huruf Pallawa.
Dari prassti-prassti itu didapatkan keterangan yang menyebutkan bahwa “Raja Purnawarman adalah Raja Tarumanegara beragama Hindu, Beliau adalah raja yang gagah berani dan lukisan tapak kakinya disamakan dengan tapak kaki Dewa Wisnu”
Bukti lain yang ditemukan di Jawa Barat adalah adanya perunggu di Cebuya yang menggunakan atribut Dewa Siwa dan diperkirakan dibuat pada masa Raja Tarumanegara. Berdasarkan data tersebut, maka jelas bahwa Raja Purnawarman adalah penganut agama Hindu dengan memuja Tri Murti sebagai manifestasi dari Tuhan Yang Maha Esa. Selanjutnya, agama Hindu berkembang pula di Jawa Tengah, yang dibuktikan adanya prasasti Tukmas di lereng gunung Merbabu. Prasasti ini berbahasa sansekerta memakai huruf Pallawa dan bertipe lebih muda dari prasasti Purnawarman. Prasasti ini yang menggunakan atribut Dewa Tri Murti, yaitu Trisula, Kendi, Cakra, Kapak dan Bunga Teratai Mekar, diperkirakan berasal dari tahun 650 Masehi.
Pernyataan lain juga disebutkan dalam prasasti Canggal, yang berbahasa sansekerta dan memakai huduf Pallawa. Prasasti Canggal dikeluarkan oleh Raja Sanjaya pada tahun 654 Caka (576 Masehi), dengan Candra Sengkala berbunyi: “Sruti indriya rasa”, Isinya memuat tentang pemujaan terhadap Dewa Siwa, Dewa Wisnu dan Dewa Brahma sebagai Tri Murti.
Adanya kelompok Candi Arjuna dan Candi Srikandi di dataran tinggi Dieng dekat Wonosobo dari abad ke-8 Masehi dan Candi Prambanan yang dihiasi dengan Arca Tri Murti yang didirikan pada tahun 856 Masehi, merupakan bukti pula adanya perkembangan Agama Hindu di Jawa Tengah. Disamping itu, agama Hindu berkembang juga di Jawa Timur, yang dibuktikan dengan ditemukannya prasasti Dinaya (Dinoyo) dekat Kota Malang berbahasa sansekerta dan memakai huruf Jawa Kuno. Isinya memuat tentang pelaksanaan upacara besar yang diadakan oleh Raja Dea Simha pada tahun 760 Masehi dan dilaksanakan oleh para ahli Veda, para Brahmana besar, para pendeta dan penduduk negeri. Dea Simha adalah salah satu raja dari kerajaan Kanjuruan. Candi Budut adalah bangunan suci yang terdapat di daerah Malang sebagai peninggalan tertua kerajaan Hindu di Jawa Timur.
Kemudian pada tahun 929-947 munculah Mpu Sendok dari dinasti Isana Wamsa dan bergelar Sri Isanottunggadewa, yang artinya raja yang sangat dimuliakan dan sebagai pemuja Dewa Siwa. Kemudian sebagai pengganti Mpu Sindok adalah Dharma Wangsa. Selanjutnya munculah Airlangga (yang memerintah kerajaan Sumedang tahun 1019-1042) yang juga adalah penganut Hindu yang setia.
Setelah dinasti Isana Wamsa, di Jawa Timur munculah kerajaan Kediri (tahun 1042-1222), sebagai pengemban agama Hindu. Pada masa kerajaan ini banyak muncul karya sastra Hindu, misalnya Kitab Smaradahana, Kitab Bharatayudha, Kitab Lubdhaka, Wrtasancaya dan kitab Kresnayana. Kemudian muncul kerajaan Singosari (tahun 1222-1292). Pada jaman kerajaan Singosari ini didirikanlah Candi Kidal, candi Jago dan candi Singosari sebagai sebagai peninggalan kehinduan pada jaman kerajaan Singosari.
Pada akhir abad ke-13 berakhirlah masa Singosari dan muncul kerajaan Majapahit, sebagai kerajaan besar meliputi seluruh Nusantara. Keemasan masa Majapahit merupakan masa gemilang kehidupan dan perkembangan Agama Hindu. Hal ini dapat dibuktikan dengan berdirinya candi Penataran, yaitu bangunan Suci Hindu terbesar di Jawa Timur disamping juga munculnya buku Negarakertagama.
Selanjutnya agama Hindu berkembang pula di Bali. Kedatangan agama Hindu di Bali diperkirakan pada abad ke-8. Hal ini disamping dapat dibuktikan dengan adanya prasasti-prasasti, juga adanya Arca Siwa dan Pura Putra Bhatara Desa Bedahulu, Gianyar. Arca ini bertipe sama dengan Arca Siwa di Dieng Jawa Timur, yang berasal dari abad ke-8.
Menurut uraian lontar-lontar di Bali, bahwa Mpu Kuturan sebagai pembaharu agama Hindu di Bali. Mpu Kuturan datang ke Bali pada abad ke-2, yakni pada masa pemerintahan Udayana. Pengaruh Mpu Kuturan di Bali cukup besar. Adanya sekte-sekte yang hidup pada jaman sebelumnya dapat disatukan dengan pemujaan melalui Khayangan Tiga. Khayangan Jagad, sad Khayangan dan Sanggah Kemulan sebagaimana termuat dalam Usama Dewa. Mulai abad inilah dimasyarakatkan adanya pemujaan Tri Murti di Pura Khayangan Tiga. Dan sebagai penghormatan atas jasa beliau dibuatlah pelinggih Menjangan Salwang. Beliau Moksa di Pura Silayukti.
Perkembangan agama Hindu selanjutnya, sejak ekspedisi Gajahmada  ke Bali (tahun 1343) sampai akhir abad ke-19 masih terjadi pembaharuan dalam teknis pengamalan ajaran agama. Dan pada masa Dalem Waturenggong, kehidupan agama Hindu mencapai jaman keemasan dengan datangnya Danghyang Nirartha (Dwijendra) ke Bali pada abad ke-16. Jasa beliau sangat besar dibidang sastra, agama, arsitektur. Demikian pula dibidang bangunan tempat suci, seperti Pura Rambut Siwi, Peti Tenget dan Dalem Gandamayu (Klungkung).
Perkembangan selanjutnya, setelah runtuhnya kerajaan-kerajaan di Bali pembinaan kehidupan keagamaan sempat mengalami kemunduran. Namun mulai tahun 1921 usaha pembinaan muncul dengan adanya Suita Gama Tirtha di Singaraja. Sara Poestaka tahun 1923 di Ubud Gianyar, Surya kanta tahun1925 di SIngaraja, Perhimpunan Tjatur Wangsa Durga Gama Hindu Bali tahun 1926 di Klungkung, Paruman Para Penandita tahun 1949 di Singaraja, Majelis Hinduisme tahun 1950 di Klungkung, Wiwadha Sastra Sabha tahun 1950 di Denpasar dan pada tanggal 23 Pebruari 1959 terbentuklah Majelis Agama Hindu. Kemudian pada tanggal 17-23 Nopember tahun 1961 umat Hindu berhasil menyelenggarakan Dharma Asrama para Sulinggih di Campuan Ubud yang menghasilkan piagam Campuan yang merupakan titik awal dan landasan pembinaan umat Hindu. Dan pada tahun 1964 (7 s.d 10 Oktober 1964), diadakan Mahasabha Hindu Bali dengan menetapkan Majelis keagamaan bernama Parisada Hindu Bali dengan  menetapkan Majelis keagamaan bernama Parisada Hindu Bali, yang selanjutnya menjadi Parisada Hindu Dharma Indonesia.

Asal Mula Kedatangan Agama Budha di Indonesia

Fa Shien, Pengelana China pada abad ke-5, berhasil mengunjungi Sriwijaya dalam perjalanannya ke Asia Tenggara. Dari catatannya diketahui bahwa di Sriwijaya sudah terdapat kaum Brahmawan yang mengajarkan Agama Buddha. Selanjutnya dari Sriwijaya, agama Buddha berkembang ke daerah lain, diantaranya Pulau Jawa dan pulau pulau sekitarnya.

Memasuki masa penjajahan selama 350 tahun seakan Agama Buddha menghilang dari bumi nusantara. Sisa-sisa penduduk Majapahit yang beragama Buddha banyak yang tinggal di Bali dan daerah Jawa Timur dan menjalankan tradisi Buddhis yang masih bertahan sampai sekarang. Perkembangan Agama Buddha pada masa penjajahan ini diwarnai dengan corak Agama Buddha dari China. Tridharma : Buddha, Kong Hu Cu dan Tao. Kebangkitan Agama Buddha baru terasa nyata sejak didirikannya ‘Java Buddhist Association’ oleh Pandita Belanda Josiast V. Dients tahun 1932, dan kedatangan Bhikkhu Narada pada tahun 1934.
Sejarah Agama Buddha secara garis besar terbagi dalam enam masa :
· Masa Jaman Kerajaan Sriwijaya
· Masa Jaman Kerajaan di Jawa Tengah
· Masa Jaman Kerajaan di Jawa Timur
· Masa Abad ke-20
· Masa Setelah kemerdekaan Indonesia
· Era Walubi
Masa Jaman Kerajaan Sriwijaya
Banyak orang menduga bahwa awal masuknya agama Buddha ke Indonesia adalah pada kedatangan Aji Saka ke tanah Jawa pada awal abad kesatu. Dugaan ini berawal dari etimologis terhadap Aji Saka itu sendiri, serta hal-hal yang berkaitan dengannya. Kata ‘Aji’ dalam bahasa Kawi bisa berarti ilmu yang ada hubungannya dengan kitab suci, sedangkan ‘Saka’ ditafsirkan sebagai kata Sakya yang mengalami transformasi. Dengan demikian mungkin kata Aji Saka ditafsirkan sebagai gelar raja Tritustha yang ahli mengenai kitab suci Sakya, dalam hal ini ahli tentang Buddha Dhamma, selain dianggap sebagai orang yang bertanggung jawab terhadap pembuatan aksara Jawa. Bila hal ini benar, tarikh Saka yang permulaanya dinyatakan sebagai ‘Nir Wuk Tanpa Jalu’ (Nir berarti kosong (0), Wuk berarti tidak jadi (0), Tanpa berarti 0 dan Jalu sama dengan 1) yang sekaligus dimaksudkan untuk mengabadikan pendaratan pertama beliau di Jepara.
Sumber pengetahuan kita tentang Agama Buddha diambil dari prasasti yang ditemukan dan dari berita-berita luar negri, yaitu dari orang China yang mengunjungi Indonesia.
Prasasti yang berasal dari abad kelima hingga ketujuh tidak terlalu banyak memberikan informasi. Prasasti itu berasal dari Kalimantan, Sumatra dan Jawa. Dari prasasti itu kita hanya mengetahui bahwa pada waktu itu ada raja-raja yang memiliki nama yang berbau India, seperti Mulawarman di Kutei dan Purnawarman di Jawa-barat. Tetapi hal itu tidak berarti bahwa raja tersebut berasal dari India. Yang paling mungkin adalah raja-raja tersebut adalah orang Indonesia asli yang sudah masuk agama yang datang dari India.
Selanjutnya prasasti tersebut menunjukan bahwa agama yang dipeluk adalah agama Hindu. tapi dari penemuan patung-patung Buddha, dapat disimpulkan bahwa agama Buddha juga sudah ada, walaupun jumlahnya masih sedikit.
Informasi paling tua tentang keberadaan Agama Buddha di Jawa dan Sumatra didapat dari pengelana China bernama Fah-Hien, yang sekembalinya dari Ceylon ke China pada tahun 414 terpaksa mendarat di negri yang bernama Ye-Po-Ti karena kapalnya rusak. Sekarang tidak terlalu jelas apakah Ye-Po-Ti itu Jawa atau Sumatra. Beberapa ahli mengatakan bahwa Ye-Po-Ti adalah Jawa (Javadvipa). Fah-Hien menyebutkan ada umat Buddha di Ye-Po-Ti, walaupun cuma sedikit.Sekalipun demikian agaknya sesudah abad kelima keadaan berubah.
Tidak sampai tiga ratus tahun kemudian, pada akhir abad ketujuh, Biksu China I-tsing mencatat dengan lengkap agama Buddha dan aplikasinya di India dan Melayu. Ketertarikan utamanya adalah pada ‘rumah agama Buddha’ India utara dimana I-tsing tinggal dan belajar disana selama lebih dari sepuluh tahun. Dari catatannya dapat dikatakan bahwa agama Buddha di India dan Sumatra mempunyai banyak kesamaan, dimana I-tsing juga menemukan perbedaan antara agama Buddha di China dan di India.
I-tsing menghabiskan waktunya hidup sendirian sebagai Biksu di India dan Sumatra. Seluruh bukunya merupakan catatan lengkap tentang kehidupan biarawan. Ia tinggal di India seluruhnya berdasarkan peraturan vinnaya.
Bila dibandingkan catatan Fah-Hien tahun 414 dengan catatan I-tsing, dapat diambil kesimpulan bahwa agama Buddha dipulau Jawa dan Sumatra telah dibangun dengan sangat cepat. Pekerjaan I-tsing selain menulis catatan seperti dikemukakan diatas, ia juga menulis buku tentang perjalanan seorang guru agama terkenal yang pergi ke negri disebelah barat (Sriwijaya ?). Diceritakannya pada catatannya itu, kehidupan biarawan yang pada intinya hampir sama dengan yang ada di India. Dalam bukunya dikatakan bahwa Biksu asli Jawa dan Sumatra adalah sarjana sanskrit yang sangat bagus. Salah saatunya adalah Jnanabhadra yang merupakan orang Jawa Asli yang tinggal di Sumatra dan bertindak sebagai guru bagi biksu China dan membantu menterjemahkan sutra kedalam bahasa China. Bahasa yang digunakan oleh biksu Buddha adalah bahasa sanskrit. Bahasa pali tidak digunakan. Bagaimanapun hal ini tidak boleh dijadikan patokan bahwa agama Buddha yang berkembang disini adalah Mahayana. I-tsing menjelaskan dalam bukunya Agama Buddha dipeluk diseluruh negri ini dan kebanyakan sistem yang diadopsi adalah Hinayana, kecuali di Melayu dimana ada sedikit yang mengadopsi Mahayana
Sudah banyak diketahui umum bahwa literatur agama Buddha berbahasa sanskrit tidak melulu berarti Mahayana.
Inilah bentuk agama Buddha yang mencapai kepulauan di laut selatan. I-tsing mengatakan di kepulauan di laut selatan, Mulasarvastivadanikayo hampir secara universal di adaptasi. I-tsing tampaknya tidak mempermasalahkan perbedaan antara penganut Hinayana dan Mahayana. Dikatakannya :
Mereka yang menyembah Bodhisatta dan membaca sutra mahayana disebut penganut Mahayana. Sementara yang tidak disebut penganut Hinayana. Kedua sistem ini sesuai dengan ajaran Dhamma. Dapatkah kita katakan mana yang benar? Keduanya mengajarkan kebajikan dan membimbing kita ke Nirvana. Keduanya menuju kepada pemusnahan nafsu dan penyelamatan semua mahluk hidup. Kita tidak boleh mempersoalkan perbedaan ini. membuat keraguan yang malah akan membuat kebingungan.
Dari karya-karyanya dapat dikatakan bahwa I-tsing tidaklah terlalu dalam bergelut dalam masalah filosofi buddhis tetapi hanya tertarik pada kehidupan biarawan dan tugas-tugas yang diemban oleh mereka. Dengan kata lain, ia memberikan seluruh waktunya untuk belajar vinnaya dan kehidupan biarawan.
Seperti dikemukakan diatas, di Sumatra dan Jawa lebih berkembang Hinayana. I-tsing menceritakan bahwa di Melayu, ditengah-tengah pesisir timur Sumatra ada pula yang menganut Mahayana. Dari sumber lain dijelaskan bahwa sebelum kedatangan I-tsing, telah datang biksu dari India Dharmapala, ke Melayu dan menyebarkan aliran Mahayana. Awal abad ke-20, dua prasasti ditemukan di dekat Palembang yang bercorak Mahayana. Prasasti lain yang dibuat tahun 775, ditemukan di Viengsa, semenanjung Melayu mengemukakan bahwa salah satu raja Sriwijaya dari keturunan Syailendra – yang tidak cuma memerintah di selatan Sumatra tapi juga dibagian selatan semenanjung Melayu – memerintahkan pembangunan tiga stupa. Ketiga stupa tersebut dipersembahkan kepada Buddha, Bodhisatwa Avalokitesvara dan Vajrapani. Dan ditempat lain ditemukan plat emas yang bertuliskan beberapa nama Dyani Buddha ; yang jelas-jelas merupakan aliran Mahayana.
Dari berita I-tsing itu selanjutnya kita dapat mengambil kesimpulan bahwa pada waktu itu Sriwijaya menjadi pusat agama Buddha. Disana terdapat sebuah perguruan tinggi Buddha yang tidak kalah dengan perguruan yang ada di Nalanda India. Ada lebih dari 1000 biksu yang ajaran serta tata upacaranya sama dengan yang ada di India. Kecuali pengikut Hinayana, di Sriwijaya juga terdapat pengikut Mahayana. Bahkan ada guru Mahayana yang mengajar disitu. Dari berita ini jelas bahwa Sriwijaya adalah pusat agama Buddha Mahayana, yang terbuka bagi gagasan baru dan yang juga senang mengadakan pekerjaan ilmiah. Oleh karena itu musafir China yang ingin belajar di India pasti singgah di Sriwijaya untuk mengadakan persiapan. Hal itu juga dilakukan oleh I-tsing sendiri.
Agaknya kemudian Mahayanalah yang berkembang dan berpengaruh besar. Hal ini terbukti dari beberapa prasasti yang didapat disekitar Palembang yang menyebutkan bahwa daputa hyang – barangkali perdana menteri – berusaha mencari berkat dan kekuatan gaib guna meneguhkan kerajaan Sriwijaya, agar segala mahluk dapat menikmatinya. Dari ungkapan yang digunakan, dapat diambil kesimpulan bahwa upacara ini adalah upacara indonesia kuno yang sesuai dengan ajaran Mahayana. Dari berita-berita yang lain jelaslah bahwa Mahayanalah yang berkuasa pada masa itu. Bahkan bukan cuma itu saja, mungkin pengaruh tantra, yang di India mempengaruhi agama Buddha sejak pertengahan abad ketujuh, juga terdapat di Sriwijaya. Hal ini didapat dari uraian bahwa salah satu tingkat untuk mendapatkan hikmah tertinggi adalah wajrasarira, tubuh baja (intan) yang mengingatkan kepada ajaran wajrayana.
Semua ini menunjukan bahwa pada tahap permulaan masih ada hubungan yang erat antara Indonesia dan India. Hubungan ini agaknya makin lama makin mengurang.
Masa Jaman Kerajaan di Jawa Tengah
Dibandingkan dengan jaman sebelumnya, sumber Agama Buddha di Jawa Tengah sedikit lebih banyak. Pada jaman ini di Jawa Tengah sudah terdapat dua kerajaan besar : Kerajaan dari dinasti Syailendra yang memeluk agama Buddha dan kerajaan dari dinasti Sanjaya yang memeluk agama Siwa. Agaknya hubungan kedua kerajaan ini baik sekali, sebab berita yang ada menyebutkan bahwa kedua kerajaan tersebut saling tolong menolong dalam pendirian candi.
Di kerajaan Syailendra agama yang dipeluk adalah agama Buddha Mahayana. Hal ini dapat diketahui dari peninggalan-peninggalan sejarah dan candi dari kerajaan ini yang bercorak Buddha Mahayana. Walaupun kerajaan Syailendra banyak mendirikan candi namun masih terbilang sedikit bila dibandingkan dengan candi yang dibangun oleh kerajaan Sanjaya. Bahwa yang berkembang adalah Buddha Mahayana, jelas terlihat dari candi di desa Kalasan – yang kemudian diabadikan sebagai nama candi tersebut. Candi ini dipersembahkan untuk Dewi Tara, rekan wanita Buddha. (Avalokitesvara ?).
Agaknya pada masa ini masih ada hubungan yang erat dengan India, sebab ada juga berita bahwa seorang guru dari Gaudidwipa (Bengala) yang memimpin upacara pada waktu peresmian patung Manyuri. Demikian juga diberitakan diprasasti lain bahwa ada orang dari Gujarat yang senantiasa melakukan kebaktian di candi tertentu. Dugaan itu berasal dari berita di India. Raja Dewapala dari dinasti Pala (Bengala) pada tahun pemerintahannya yang ke-39 (antara tahun 856 dan 860) menghadiahkan beberapa desa untuk keperluan pemeliharan sebuah vihara di Nalanda, yang didirikan oleh Balaputra, raja Suwarnadwipa (Sumatra), cucu raja di Jawa.
Sekalipun demikian keadaan di Jawa Tengah tidak sama dengan keadaan di Sriwijaya.
Mahayana yang bagaimanakah yang berkembang di Jawa Tengah? Pertanyaan itu sukar dijawab. Yang perlu diperhatikan adalah pada prasasti Kalurak (782) yang agaknya berhubungan juga dengan peresmian patung Mansyuri, disebutkan bahwa Mansyuri selain disamakan dengan Triratna juga disamakan dengan Brahma, Wisnu dan Maheswara. Bagi para pengikut Mahayana di Jawa Tengah, agaknya para Bodhisatva tidak dibedakan dengan dewa dari hindu.
Disamping prasasti, ada candi-candi yang menjadi saksi agama Buddha di Jawa Tengah. Candi tersebut memberikan penjelasan yang lebih banyak. Yang paling terkenal adalah candi Borobudur.
Jika ingin mengerti arti Borobudur, bangunan itu harus dipandang sebagai satu kesatuan. Dari susunan candi yaitu yang terdiri atas teras-teras yang bermacam-macam, agaknya Borobudur mengungkapkan gambaran dunia menurut salah satu aliran Mahayana. Borobudur menggambarkan seluruh alam semesta atau kosmos ini terbagi atas tiga bagian : Kamadhatu, Rupadhatu dan Arupadhatu. Kamadhatu adalah hawa nafsu dan ini digambarkan dengan jelas pada bagian bawah. Disini hidup orang yang masih terikat oleh hawa nafsu dan segala hal yang berbau duniawi. Rupadhatu adalah dunia rupa, atau alam yang terbentuk, yang digambarkan pada lima teras yang menggambarkan hidup Buddha Gautama. Arupadhatu adalah alam yang tak berupa, tidak berbentuk. Pusat dari alam ini adalah stupa yang dipuncak, yang kosong, yang menggambarkan sunyata atau Nirwana atau Adhi Buddha.
Mengingat susunan Borobudur yang demikian, agaknya dapat diambil kesimpulan bahwa Borobudur ingin mengungkapkan ajaran Mahayana dalam hubungan kosmis. Borobudur adalah tempat untuk ber meditasi, tempat untuk merenung.
Mengingat bahwa Borobudur dibangun diatas bukit, agaknya pembangunan Borobudur itu dijiwai oleh gagasan Indonesia kuno, yaitu tentang afanya tempat suci yang berbentuk teras, yang biasanya dipakai untuk menyembah nenek moyang, dan terletak diatas bukit. Oleh karena itu maka kiranya penyembahan kepada Bodhisatva sudah dipandang sebahai alat untuk menyembah nenek moyang mereka yang sudah meninggal. Jika demukian maka agama Buddha pada waktu ini sudah dipengaruhi oleh cita-cita keagamaan indonesia asli.
Masa Jaman Kerajaan di Jawa Timur
Di Jawa Timur, agaknya agama Buddha dan agama Siwa hidup berdampingan. Hal ini tertera dari prasasti-prasasti dimana mPu Sindok disebut dengan gelar Sri Isana (sebutan Siwa) sedangkan puntrinya menikah dengan Lokapala yang juga disebut Sugatapaksa (sebutan Buddhis). Juga ditemukan pengaruh tantra pada kedua agama ini cukup kuat.
Dari kesusastraan yang ada, didapat bahwa kesusastraan yang terkuno disusun sedemikian rupa, hingga terdiri dari ayat-ayat dalam bahasa Sanskrit, yang diikuti oleh keterangan bebas dalam bahasa Jawa kuno. Dari sini terlihat bahwa ayat-ayat itu berasal dari India. Dalam perkembangan selanjutnya adalah kitab tersebut terdiri dari ayat dalam bahasa Jawa kuno dan diselingi bait-bait dari bahasa Sanskrit. Ini menunjukan hubungan dengan India sudah longgar. Akhirnya terdapat kitab yang seluruhnya terdiri dari bahasa Jawa kuno, hanya kadang terdapat selingan dalam bahasa Sanskrit.
Pada jaman ini ada dua buku yang menguraikan ajaran Mahayana, yaitu ‘Sanghyang Kamahayan Mantrayana’ yang berisi ajaran yang ditujukan kepada bhikkhu yang sedang ditasbihkan, dan ‘Sanghyang Kamahayanikan’ yang berisi kumpulan pengajaran bagaimana orang dapat mencapai kele pasan. Pokok ajaran dalam Sanghyang Kamahayanikan adalah menunjukan bahwa bentuk yang bermacam- macam dari bentuk pelepasan pada dasarnya adalah sama. Bagi penulis Sanghyang Kamahayanikan tidaklah terlalu sulit untuk mengidentifikasikan Siwa dengan Buddha dan menyebutnya “Siwa-Buddha”, bukan lagi Siwa atau Buddha, tetapi Siwa-Buddha sebagai satu Tuhan.
Beralih ke jaman Majapahit, dapat disimpulkan bahwa jaman ini adalah jaman dimana Sinkretisme sudah mencapai puncaknya. Agaknya aliran Siwa, Wisnu dan Buddha dapat hidup bersamaan. Ketiganya dipandang sebagai bentuk yang bermacam-macam dari suatu kebenaran yang sama. Siwa dan Wisnu dipandang sama nilainya dan mereka digambarkan sebagai ‘Harihara’ yaitu patung setengah Siwa setengah Wisnu. Siwa dan Buddha dipandang sama. Didalam kitab Arjunawijaya umpamanya diceritakan bahwa ketika Arjunawijaya memasuki candi Buddha, para bhikkhu menerangkan bahwa para Jina dari penjuru alam yang digambarkan pada patung-patung itu adalah sama saja dengan penjelmaan Siwa. Wairocana sama dengan Sadasiwa yang menduduki tempat tengah. Aksobya sama dengan Rudra yang menduduki tempat timur. Ratna sambhawa sama dengan Brahma yang menduduki selatan, Amitabha sama dengan Mahadewa yang menduduki barat dan Amogasiddhi sama dengan Wisnu yang menduduki utara. Oleh karana itu para bhikkhu tersebut mengatakan tidak ada perbedaan antara agama Buddha dengan Siwa. Dalam kitan ‘Kunjarakarna’ disebutkan bahwa tiada seorangpun, baik pengikut Siwa maupun Buddha yang bisa mendapat kelepasan jika ia memisahkan yang sebenarnya satu, yaitu Siwa-Buddha.
Kita mendapat kesan bahwa pada waktu itu agama Buddha lebih berkembang dari agama Siwa. Ini dilihat dari kitab Sutasoma yang mencaritakan tentang kemarahan Kalarudra yang hendak membunuh Sutasoma, titisan Buddha. Para dewata mencoba meredakan Kalarudra dengan mengingatkan bahwa sebenarnya Buddha dan Siwa tidak bisa dibedakan. Jinatwa (hakekat Buddha) adalah sama dengan Siwatattwa (hakekat Siwa). Selanjutnya dianjurkan agar orang merenungkan Siwa-Buddha-tattwa, hakekat Siwa-Buddha.
Hal ini tampak juga dari cerita Bubuksah yang ceritanya juga dilukiskan di candi Panataran. Dua saudara yang tua bernama Gagang Aking, pengikut Siwa dan Bubuksah pengikut Buddha, sejak muda hidup sebagai pertapa di gunung Wilis. Bubuksah makan segala sesuatu yang dapat dimakan sedangkan Gagang Aking memakan sayuran saja. Mereka berdebat tentang dua pertapaan ini. Kemudian dewa Mahaguru mengutus Kala Wijaya dalam wujud harimau putih untuk menguji kedua anak itu. Ketika harimau putih datang ke Gagang Aking, dinasehatinya supaya pergi saja keadiknya karena tubuhnya lebih gemuk. Ketika harimau itu tiba ditempat Bubuksah, dengan sengaja ia merelakan dirinya untuk disantap, supaya ia lepas dari dunia fana ini. Dari sini jelaslah bahwa Bubuksah itu pengikut Buddha yang suci sekalipun ia tidak keras dalam tapanya. Ia mendapat tempat di surga. Cerita ini mengungkapkan suatu polemik, yang menunjukan keunggulan agama Buddha. Sekalipun demikian carrita ini dilukiskan pada candi Prambanan.
Dari sini makin jelas bahwa unsur-unsur indonesia asli makin kedepan yang diuraikan dalam bentuk agama Hindu dan Buddha.
Masa Abad ke-20
Gunung api akan meluapkan baranya Lima ratus tahun dari sekarang Ajaran Buddha akan kembali Kemudian sang hulubalang menghilang dari depan seterunya, setelah memilih untuk tetap mempertahankan apa yang diyakininya, dengan hanya meninggalkan beberapa baris ramalan. Tahun 1478, kerajaan Majapahit berakhir. Kala itu ikut runtuh juga pilar-pilar kejayaan agama Buddha di nusantara. Rakyat yang setia memeluk agama Siwa-Buddha mengungsi dan berkumpul di berbagai tempat di Jawa Timur dan pulau Bali.
Seratus lima puluh tahun berselang, bangsa Indonesia dijajah Belanda. Ikut datang bersama kaum penjajah, evangelis-evangelis yang menyebarkan agama Kristen. Selain itu, terdapat juga cendikiawan Belanda yang datang, untuk keperluan meneliti sejarah dan kebudayaan bangsa yang dijajah. Belanda mempelajari itu semua, tentu dengan tujuan untuk melanggengkan penguasaan bangsanya atas bangsa yang terjajah.
Ajaran spiritualisme yang menonjol dikalangan orang Belanda yang ikut datang ke Indonesia adalah apa yang dikenal sebagai Perhimpunan Theosofi. Ajaran Theosofi memberikan tekanan pada aspek persaudaraan antar manusia, tanpa membedakan ras, bangsa, maupun agama. Sehingga ada juga orang Indonesia berpendidikan yang ikut menjadi anggota Theosofi.
Disamping dua kelompok diatas – penganut theosofi dan penganut Siwa-Buddha – ritual agama Buddha yang telah membaur dengan tradisi Tiongkok juga dipraktekan oleh kalangan Tionghoa di Indonesia. Agama Tionghoa secara tradisional merupakan perbauran antara agama Buddha, Konfusianisme dan Taoisme. Ajaran agama Buddhanya adalah ajaran dari tradisi utara atau secara umum dikenal sebagai aliran Mahayana.
Tidak jarang, biksu-biksu dari Tiongkok datang memberikan bimbingan di kelenteng-kelenteng. Namum pada umumnya yang mereka berikan hanya penjelasan mengenai bentuk-bentuk upacara seperti bagaimana memasang hio dan cara-cara sembahyang, menjaga lilin dan sebagainya. Jarang sekali mengungkapkan ajaran Buddha secara rinci.
Ditahun 1920-an muncul satu tokoh di kalangan ini yang bernama Kwee Tek Hoay, seorang pedagang , penulis yang tajam dan juga budayawan. Ia pulalah yang mula-mula menerbitkan majalah berbahasa Indonesia berisikan ajaran agama BUddha , dengan nama Moestika Dharma.
Dari majalah Moestika Dharma yang terbit pada tahun 1932 diketahui bahwa telah ada organisasi Buddhis yang bernama Java Buddhists Association, dibawah pimpinan Ernest Erle Power (ketua) dan Josiast v. Dienst (sekretaris). Organisasi ini merupakan bagian dari The International Buddhists Missionary yang berpusat di Thanton, Myanmar. Java Buddhists Association berorientasi pada agama Buddha aliran Theravada.
Kedatangan Pandita Josias membuka pikiran banyak tokoh-tokoh masyarakat yang memperhatikan agama Buddha. Dikelenteng, waktu ia berdiskusi dengan bhiksu-bhiksu, banyak tokoh-tokoh kelenteng yang ikut mendengarkan. Pembicaraan antara upasaka keturunan Belanda itu dengan tokoh kelenteng berkisar pada ajaran agama Buddha dan perkembangannya di Pulau Jawa.
Atas jasa Kwee Tek Hoay, terselenggara dialog antara Josiast v. Dients dan Bhiksu Lin Feng Fei, kepala kelenteng Kwan Im Tong di Prinsenlaan (mangga besar), Jakarta. Dialog itu menghasilkan kesepakatan bahwa kelenteng sebagai tempat ibadah umat Buddha tidak hanya digunakan sebagai tempat pemujaan saja, melainkan pula sebagai tempat untuk mendapatkan pelajaran agama Buddha.
Sebagai tindak lanjut dari kesepakatan itu, Bhiksu Lin Feng Fei mengizinkan Josiast memberikan ceramah agama Buddha di kelenteng Kwan Im Tong. Kemudian Kongkoan (Chineesche Raad), suatu badan yang mengorganisir kelenteng-kelenteng di Jakarta, mengizinkan pula Josiast memberikan ceramah di kelenteng-kelenteng di sekitar Jakarta.
Pada tahun 1934, tanggal 4 Maret, Bhikkhu Narada Thera, seorang evangelis Buddhist yang terkenal dari Srilangka, datang ke Indonesia untuk pertama kalinya dalam lawatan ke Asia Tenggara, atas undangan Ong Soe An, seorang tokoh Theosifi dari Bandung.
Selama di Pulau Jawa, Bhikkhu Narada mengunjungi Batavia, Buitenzorg (Bogor), Bandung, Yogya dan Solo. Di lima kota ini Bhikkhu narada memberikan ceramah-ceramah tentang ajaran agama Buddha.
Oleh aktivis Theosofi, kedatangan Bhikkhu Narada dimanfaatkan untuk memperluas wawasan mengenai ajaran Buddha. Sewaktu mengunjungi Candi Borobudur, di Magelang, pada tanggal 10 Maret 1934, Bhikkhu Narada memberkati penanaman Pohon Bodhi yang dilakukan oleh pemuka Theosofi Yogya, Mr. E E. Power. Sepulangnya dari Borobudur, pada malam harinya, Bhikkhu Narada Thera menahbiskan beberapa orang upasaka di Yogya. Diantaranya terdapat seorang jawa bernama Mangunkawatja.
Pada tahun itu juga dibentuk Java Buddhists Association Afdeeling Batavia (Jakarta) dengan ketuanya J.W. de Witt dan sekretarisnya DR. R. Ng. poerbatjaraka. Disamping itu dibentuk juga Java Buddhists Association Afdeeling Buitenzorg (Bogor) dibawah pimpinan A. van der Velde (ketua) dan Oeij Oen Ho (sekretaris). Tak lama kemudian, tanggal 10 Mei 1934, Java Buddhists Association Afdeeling Batavia melepaskan diri dari Java Buddhists Association pusat dan berdiri sendiri dengan nama Batavia Budhists Association dibawah pimpinan Kwee Tek Hoay (ketua) dan Ny. Tjoa Hin Hoey (sekretaris). Dalam majalah Moestika Dharma, Kwee Tek Hoay menjelaskan bahwa pemisahan ini bukan merupakan pemecahan tapi untuk dapat bergerak lebih leluasa. Batavia Buddhists Association ini condong menyebarkan ajaran Mahayana, berbeda dengan Java Buddhist Association yang Theravada.
Pada tahun 1934 itu juga dibentuk suatu organisasi pusat (semacam Walubi) yang bernama Central Buddhistische Institut Voor Java dengan media cetak berbahasa Belanda yang bernama De Dharma in Nederlandsche Indie.
Pada tahun 1935 oleh Kwee Tek Hoay telah banyak dibentuk Sam Kauw Hwee, yaitu organisasi-organisasi setempat yang anggotanya terdiri dari penganut agama Buddha, Konghucu dan Tao, dengan media cetak bernama Sam Kauw Goat Poo yang berbahasa Indonesia. Tujuan Organisasi ini pada dasarnya adalah untuk mencegah orang Cina dan keturunan Cina menjadi penganut ajaran agama lain. Selama pendudukan Jepang, semua kegiatan organisasi Buddhist terhenti. Baru kemudian pada tahun 1952, Sam Kauw Hwee – Sam Kauw Hwee ini digiatkan kembali dengan menggabungkan diri menjadi Perkumpulan Sam Kauw Hwee Indonesia.
Masa Setelah Kemerdekaan Indonesia
Dalam perkembangan selanjutnya, pada tahun 1969 telah terdapat berbagai organisasi Buddhis yang merupakan organisasi sosial kemasyarakatan dan sekaligus melakukan pengembangan kualitas umat dan kualitas kehidupan beragama umat Buddha. Diantaranya adalah :
1. Gabungan Tridharma Indonesia (GTI)Gabungan Tridharma Indonesia adalah merupakan penggabungan beberapa Sam Kauw Hwee. Perkumpulan Sam Kauw Hwee Indonesia bergabung dengan Thian Lie Hwee yang dipimpin oleh almarhum Ong Tiang Biauw (yang kemudian menjadi Bhikkhu Jinaputta) dan Gabungan Khong Kauw Hwee Indonesia (GAPAKSI). Bagian kebaktian dari Sin Ming Hui (Perkumpulan Sosial Candrayana) dan Buddha Tengger, membentuk Gabungan Sam Kauw Indonesia (GKSI) di bawah pimpinan The Boan An sebagai ketua pada tahun 1953. Setelah The Boan An di tasbihkan menjadi Bhikkhu pada tahun 1954 di Myanmar dengan nama Bhikkhu Jinarakkhita, ketua GKSI beralih kepada DRS. Khoe Soe Kiam (Drs. Sasana Surya). Pada tahun 1962, GKSI berganti nama menjadi Gabungan tridharma Indonesia (GTI).
2. Perhimpunan Buddhis Indonesia (PERBUDHI)Beberapa tokoh umat Buddha dari suku Jawa, diantaranya Sosro Utomo dari Buddha Tengger, melihat bahwa sukar bagi orang Jawa untuk tetap bergabung dengan GTI. Oleh sebab itu untuk pertumbuhan umat disarankan membentuk organisasi baru yang memungkinkan orang Jawa menjadi anggotanya. Tahun 1967 dibentuk Persatuan Buddhis Indonesia (PERBUDHI) dengan ketua umum pertamanya Sosro Utomo. Dalam kongres pertamanyatahun 1978 diganti namanya menjadi Perhimpunan Buddhis Indonesia (PERBUDHI) dengan ketua umum Sariputra Sudono, dan kemudian berturut-turut sebagai ketua umum adalah Kolonel Soemantri M.S. dan Brigjen. Suraji A.A. Atas usaha Bhikkhu JInarakkhita Perbuddhi dengan cepat berkembang dan menyebar ke luar pulau Jawa. Sejak permulaan tahun 60-an kelihatan ketidak-serasian antara Bhikkhu Jinarakkhita dan Perbudhi dengan GTI, yang pada akhirnya berakibat GTI melarang anggotanya menjadi anggota Perbudhi.
3. Musyawarah Umat Buddha Seluruh Indonesia (MUSBI)Dalam tubuh Perbudhi terdapat kelompok Upasaka dan Upasika yang merupakan kelompok elit dalam Perbudhi. Kelompok ini harus menjadi anggota perbudhi dan terikat dalam persaudaraan yang disebut Persaudaraan Upasaka-Upasika Indonesia (PUUI) yang dibentuk pada tahun 1956 oleh Bhikkhu Jinarakkhita dan merupakan pembantu Sangha dan bertanggung jawab kepada Sangha Suci Indonesia pimpinan Bhikkhu Jinarakkhita. Beberapa anggota Perbudhi dari Yogya dan Jawa Tengah menentang adanya kelompok ini. Mereka berpendapat bahwa roda organisasi Perbudhi tidak dapat berjalan dengan baik karena Upasaka-Upasika ini tidak tunduk kepada keputusan kongres, tetapi kepada Sangha. Sedangkan pihak lainnya memandang perlu adanya PUUI. Tahun 1962 mereka yang menolak PUUI menyatakan keluar dari Perbudhi dan membentuk Musyawarah Umat Buddha Seluruh Indonesia (MUSBI) dibawah pimpinan Drs. Soeharto Djojosumpeno dari Yogya, yang terakhir menjabat sebagai staf pada Lemhanas.
4. Buddhis IndonesiaTahun 1965 Perbudhi cabang Semarang melepaskan diri dari Perbudhi dan membentuk Buddhis Indonesia yang bermarkas di Vihara Tanah Putih Semarang. Buddhis Indonesia mendapat dukungan dari berbagai cabang Perbudhi di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan menyatakan diri menjadi cabang Buddhis Indonesia. Awal perpecahan ini adalah ketidak-serasian dan masalah pribadi antara tokoh-tokoh Busshid di Semarang dan Jawa Tengah dengan tokoh sentral umat Buddha, tetapi sebagai alasan untuk keluar dari Perbudhi adalah keikut-sertaan Perbudhi dalam Konferensi World Buddhists of Fellowship (WFB) di Bangkok yang hadir pula utusan dari Malaysia. Pada waktu itu Indonesia sedang berkonfrontasi dengan Malaysia.
Pada bulan Juli 1965 diadakan pertemuan antar organisasi-organisasi Buddhis yang ada untuk membuat landasan kerukunan dan kerjasana. Pertemuan ini dilanjutkan lagi pada bulan Agustus 1966 dan Oktober 1966. Pada pertemuan mereka bulan Februari 1967 berhasil dibentuk Federasi Umat Buddha Indonesia yang anggotanya adalah :
1. Buddhis Indonesia 2. Gabungan Tridharma Indonesia 3. Musyawarah Umat Buddha Seluruh Indonesia 4. Agama Hindu-Buddha Tengger 5. Agama Buddha Wisnu Indonesia
Perbudhi tidak mau bergabung dengan Federasi Umat Buddha Indonesia karena diantara anggota Federasi Umat Buddha Indonesia ini ada yang telah mengeluarkan pernyataan bersama yang merugikan Sangha Suci Indonesia dan Perbudhi. Dalam Maha Samaya II (kongres PUUI) yang diselenggarakan 16-18 Maret 1969 di Bandung, yang dihadiri pula oleh Perbudhi dan Maha Sangha Indonesia, dibentuk Majelis Tertinggi Seluruh Umat Buddha Indonesia yang berfungsi menetapkan kebijaksanaan dalam keagamaan dan bertanggung jawab kepada Maha Sangha Indonesia. Pimpinan majelis ini adalah Bhikkhu Girirakkhito (ketua umum) dan Brigjen Suraji Aryakertawijaya (sekjen).
Pada tahun 1959 oleh Bhikkhu Jinarakkhita dibentuk Sangha Indonesia yang terdiri dari bhikkhu-bhikkhu dan samanera yang ditasbihkan menurut mazhab Theravada. Kemudian Sangha Indonesia diubah menjadi Sangha Suci Indonesia dan pada tahun 1968 diubah lagi menjadi Maha Sangha Indonesia yang terdiri dari bhikkhu-bhikkhu Theravada dan Mahayana.
Perpecahan dan perselisihan diantara umat Buddha sampai tahun 1969 pada umumnya didasarkan pada perselisihan pribadi. Perpecahan diantara para bhikkhu dalam Maha Sangha Indonesia diwarnai dengan adanya perbedaan dalam pemahaman Vinaya dan Dharma.
Beberapa bhikkhu Theravada menghendaki para bhikkhu tidak campur tangan mengenai perpecahan ini dan berdiri sendiri sebagai panutan. Karena usaha ini tidak berhasil, maka para bhikkhu tersebut keluar dari Maha Sangha Indonesia ada membentuk Sangha Indonesia pada tanggal 12 Januari 1972.
Sangha Indonesia mendapat dukungan dari organisasi-organisai yang terhimpun dalam Federasi Umat Buddha Indonesia dan dari organisasi lain seperti Perbudhi dan Persaudaraan Umat BUddha Salatiga. Dukungan PErbudhi terhadap Sangha Indonesia dan menyatakan sebagai Pengayom Perbudhi disamping Maha Sangha Indonesia telah menyebabkan PUUI, yang namanya telah diganti menjadi Majelis Ulama Agama Buddha Indonesia (MUABI) menyatakan keluar dari Perbudhi.
Untuk mencegah perpecahan supaya tidak meluas, atas prakarsa Brigjen Saparjo, dilakukan pertemuan untuk mengadakan musyawarah. Setelah beberapa kali pertemuan, pada tanggal 26 Mei 1972 dibuat ikrar di Candi Borobudur untuk membentuk wadah tunggal umat Buddha Indonesia. Ikrar tersebut ditanda-tangani oleh:
1.Suryaputta Ks Suratin (Buddhis Indonesia) 2.Brigjen Sumantri MS (MUABI) 3.Brigjen Suraji Ariya kertawijaya (Perbudhi) 4.Djoeri (MUSBI) 5.Drs. Sasana Surya (GTI) 6.Soepangat Prawirokoesoemo SH (Persaudaraan Umat Buddha Salatiga)
Wadah tunggal itu merupakan peleburan semua organisasi Buddhis dan bernama Buddha Dharma Indonesia disingkat BUDHI. Disamping itu juga dibentuk Majelis Buddha Dharma Indonesia yang anggotanya terdiri dari para pemuka agama Buddha dan cendikiawan Buddhis dari berbagai sekte. Majelis ini berfungsi menetapkan kebijaksanaan keagamaan.
Pada tanggal 14 Januari 1974, atas prakarsa Dirjen Bimas Hindu-Buddha, diadakan pertemuan antara Sangha Indonesia dan Maha Sangha Indonesia. Dalam peretemua itu, disepakati untuk melebur Sangha Indonesia dan Maha Sangha Indonesia menjadi Sangha Agung Indonesia dan setiap bhikkhu akan melaksanakan Vinaya berdasarkan sekte masing-masing. Terpilih sebagai ketua adalah MNS Jinarakkhita dan wakilnya Bhikkhu Jinapiya Thera.
Akan tetapi, pertemuan selanjutnya untuk menetapkan antara lain struktur dan fungsi organisasi Sangha Agung Indonesia tidak pernah dpat dilaksanakan. Konsensus yang dibuat pada tanggal 14 Januari tersebut tidak dapat diwujudkan.
Sebegitu jauh kerukunan, persatuan dan kesatuan masih belum dapat diwujudkan, sedangkan pertentangan antar organisasi makin meningkat, atas dasar Dirjen Bimas Hindu-Buddha dilakukan pertemuan pimpinan organisasi Buddhis dan para pemuka agama Buddha pada tahun 1976 di Jakarta. Dalam pertemuan itu disadari bahwa organisasi Buddhis mempunyai dua bentuk kegiatan, yaitu : aspek sosial kemasyarakatan dan aspek pembinaan kehidupan keagamaan yang dilakukan oleh para rohaniawan dari sekte yang bersangkutan. Dalam keadaan yang demikian sukarlah untuk terbentuk satu wadah tunggal bagi umat Buddha karena masing-masing sekte mempunyai tradisi dan upacara keagamaan yang berbeda satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu kedua aspek kegiatan organisasi Buddhis yang ada dipisahkan dan masing-masing dihimpun dalam wadah tunggal.
Aspek sosial kemasyarakatan dihimpun dalam wadah tunggal non sektarial yang dinamakan Gabungan Umat Buddha Seluruh Indonesia (GUBSI) dibawah pimpinan R. Eko Sasongko Pratomo SH (ketua) dan Drs. Aggi Tjetje (sekjen). Aspek kerohanian menjadi Majelis Agama yang mewakili sekte agama Buddha yang ada. Bidang kerohanian BUDHI tumbuh menjadi Majelis Pandita Buddha Dharma Indonesia ( MAPANBUDHI). Dari kelompok Tridharma, dinamakan Majelis Rohaniawan Tridharma se Indonesia ( Martrisia). Kemudian dalam pertemuan berikutnya, dibentuk Majelis Agung Agama Buddha Indonesia MABI yang berbebtuk federasi.
MUABI kemudian mengundurkan diri dari MABI. MUABI pecahannya menjadi Lembaga Dharmaduta Kasogatan Indonesia yang akhirnya menjadi Majelis Dharmaduta Kasogatan Tantrayana Indonesia, yang di pimpin oleh alm Giriputta Sumarsono dan kemudian Drs. Oka Diputhera. MUABI kemudian diganti menjadi Majelis Buddhayana Indonesia (MBI).
Bhikkhu-bhikkhu Theravada yang terhimpun dalam Sangha Agung Indonesia mengundurkan diri dan bersama-sama dengan bhikkhu-bhikkhu Theravada yang baru pulang dari belajar diluar negri, membentuk Sangha Theravada Indonesia. Demikian pula dengan Bhikkhu Mahayana yang ada di Sangha Agung Indonesia mengundurkan diri dan kemudian membentuk Sangha Mahayana Indonesia. Dengan demikian di Indonesia terdapat tiga Sangha : Sangha Agung Indonesia, Sangha Theravada Indonesia dan Sangha Mahayana Indonesia.
Lebih lanjut, Menteri Agama Alamsyah Ratu Perwiranegara mengadakan pertemuan dengan pimpinan semua majelis dan sangha yang ada di Indonesia. Dalam pertemuan ini semua majelis ada sangha menyatakan semua sekte agama Buddha yang ada, berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa dengan sebutan yang berbeda-beda. Dalam pertemuan ini dibentuk Perwalian Umat Buddha Indonesia (WALUBI) yang mewakili umat Buddha pada tahun 1978. Nama Perwalian Umat Buddha Indonesia di berikan oleh Menteri Agama Alamsyah Ratu Perwiranegara.
Era Walubi
Masa selanjutnya adalah masa Walubi yang dibentuk pada tahun 1978. Walubi dalam rapat anggotannya tanggal 21 desember 1978 mendukung pernyataan MABI yang menyatakan bahwa seluruh aliran dan sekte-sekte agama Buddha berkeyakinan terhadap adanya Tuhan Yang Maha Esa. Walaupun demikian MUABI dan Sangha Agung Indonesia masih berada di luar Walubi.
Disamping itu atas jasa baik seorang pejabat tinggi pemerintah, pada bulan Januari itu juga diadakan pertemuan para pemuka agama dan organisasi Buddhis. Dalam pertemuan itu dibahas apa yang menjadi persoalan diantara umat Buddha dan disepakati akan mengadakan lokakarya sebelum bulan Pebruari 1979. Dalam pertemuan itu Niciren Syosyu Indonesia (NSI) tidak diikut-sertakan karena salah seorang pemuka umat Buddha dari MUABI tidak memandang NSI sebagai bagian dari rumpun umat Buddha. NSI yang mengakui sebagai agama Buddha yang sama dengan Majelis-majelis lainnya dan menyetujui kesepakatan yang telah dihasilkan dalam pertemuan tersebut diatas diikut sertakan dalam lokakarya yang diselenggarakan bulan Februari 1978.
Lokakarya yang dilaksanakan pada tanggal 20 Februari 1978 di Jakarta menghasilkan dokumen “Lokakarya Pemantapan Ajaran Agama Buddha dalam kepribadian Nasional Indonesia”. Hasil lokakarya ini merupakan dasar untuk mengadakan Kongres Umat Buddha Indonesia.
Setelah diadakan prakongres, Kongres Umat Buddha Indoensia diselenggarakan pada tanggal 8 Mei 1979 di Yogyakarta. Hasil kongres itu antara lain Kode Etik, Kriteria agama Buddha, Ikrar Umat Buddha Indoensia dan pengukuhan Hasil Keputusan Lokakarya Pemantapan Ajaran Agama Buddha Dengan Kepribadian Nasional Indonesia.
Ikrar Umat Buddha yang isinya antara lain akan melaksanakan dengan sepenuh hati dan sebaik- baiknya semua Ketetapan dan Keputusan Kongres Umat Buddha Indonesia, dinyatakan dalam forum terbuka dihadapan Menteri Agama Alamsyah Ratu Perwiranegara dalam Upacara Waisak Nasional pada tanggal 10 Mei 1979 di Candi Mendut dan ditandatangani oleh semua Sangha dan Majelis Agama Buddha, termasuk NSI yang pada waktu itu mengakui sebagai agama Buddha yang sama dengan Majelis-majelis lainnya.
Hasil Kongres Umat Buddha tersebut merupakan dasar dan besar artinya untuk mewujudkan kerukunan, persatuan dan kesatuan umat Buddha di Indonesia. Oleh sebab itu, dikukuhkan dalam Kongres I Walubi pada tahun 1986 di Jakarta.
Dengan adanya hasil Kongres yang merupakan dasar kerukunan, persatuan dan kesatuan umat Buddha bukanlah berarti kerukunan itu akan segera tercipta. Tidaklah mudah untuk melaksanakan program Walubi pada tahun-tahun pertama terbentuknya.
Pada tahun 1981 dengan dalih Anggaran Dasar Walubi tidak sah diadakan Kongres Luar Biasa Walubi untuk membuat Anggaran Dasar baru. hasil Kongres Luar Biasa tersebut ternyata adalah penggantian DPP Walubi. Ketua umum yang baru adalah Soemantri Mohammad Saleh dan Sekjen Seno Sunoto dari NSI.
Penggantian pimpinan Walubi tidaklah membawa peningkatan pada kerukunan intern Umat Buddha dan terlaksananya program Walubi, tetapi sebaliknya Sambutan Hari Raya Waisak dari Seno Sutono selaku Sekjen Walubi yang dimuat dalam surat kabar ‘Sinar Harapan’ pada tahun 1983 adalah bertentangan dengan kode etik dan hasil lokakarya pemantapan ajaran agama Buddha. Dalam sambutannya itu Seno Sutono mengubah Hari Raya Waisak sebagai hari balas Budi bagi umat Buddha yang didasarkan pada filsafat dan pandangan hidup orang Jepang.
Protes-protes dalam surat kabar dapat dihentikan agar tidak menimbulkan keresahan dan mengganggu kerukunan lebih lanjut dikalangan umat Buddha. Masalah tersebut akan diselesaikan oleh DP Walubi Pusat. Akan tetapi masalah tersebut tidak pernah diselesaikan.
Kemudian pada awal tahun 1985 timbul kembali kepermukaan keresahan dikalangan umat Buddha di Jawa Tengah, terutama di Wonogiri tentang adanya Buddha lain disamping Buddha Gautama. Dalam konsultasi pejabat Direktorat Jendral Bimas Hindu-Buddha dengan pemuka agama Buddha, Seno mengakui bahwa NIciren Daisyonim adalah seorang Buddha.
Permasalahan tentang adanya dua Buddha yang bertentangan dengan kriteria agama Buddha, kode etik dan hasil lokakarya pemantapan ajaran agama Buddha dan merusak kerukunan intern umat Buddha, tidak diselesaikan oleh DPP Walubi sampai pada Kongres I Walubi tahun 1986. Kongres I Walubi diselenggarakan tanggal 8 – 11 Juli 1986 mengukuhkan hasil-hasil kongres umat Buddha Indonesia tentang kode etik, kriteria agama Buddha di Indonesia, agama Buddha dengan kepribadian nasional Indonesia, ikrar umat Buddha Indonesia. Dalam kongres I Walubi itu terpilih sebagai ketua umum adalah Bhikkhu Girirakkhita Maha Thera dan wakilnya adalah Drs. Aggi Tjetje.
Berdasarkan fatwa Widyeka Sabha Walubi dan secara historis, faktual dan keimanan, Buddha masa kini adalah tetap Buddha Gautama. Hal ini berakibat tidak diakuinya Niciren Syosyu Indoensia sebagai bagian dari rumpun agama Buddha, Oleh karena itu NSI dikeluarkan dari Walubi pada tanggal 10 Juli 1987.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan beberapa pakar sejarah di tanah air, hingga saat ini masih terdapat berbagai pendapat yang berbeda tentang kapan masiknya agama Buddha di Indonesia. Namun satu hal yang dapat dicatat dalam sejarah, berdasarkan pada catatan perjalanan Fa Hien, seorang misionaris Buddha asal China, sekitar tahun 414 masehi, telah ada penganut agama Buddha di pulau Jawa, walaupun masih dalam jumlah yang tidak banyak.
Kemudian, berdasarkan catatan sejarah, atas usaha Bhikshu Gunawarman, pada tahun 423 Masehi, agama Buddha mulai berekembang di pulau Jawa. Sedangkan perkembangan agama Buddha di Sumatera tercatat pada catatan perjalanan I-Tsing, seorang bhikshu dari China yang dalam perjalanan pulang nya ke China singgah dan menetap beberapa waktu ke Sriwijaya di Palembang yang terletak di pulau Sumatera Selatan (685-695M).
Perkembangan Mazhab Tantrayana di Indonesia
Mazhab Tantrayana berkembang dengan pesatnya dibumi persada Indonesia, terutama pada masa-masa kerajaan Mataram kuno, Singasari dan Majapahit. Perkembangan yang demikian pesatnya seiring dan sejalan dengan mazhab-mazhab lkainnya, bahkan dengan agama Hindu yang juga banyak dianutnya pada masa-masa tersebut.
Bukti-bukti pesatnya perkembangan mazhab Tantrayana pada masa-masa tersebut, antara lain :
1. Pada masa Kerajaan Kuno : Candi-candi Buddha :
1. Candi Kalasan, dekat Jogjakarta, didirikan tahun 778 M.
2. Candi Sari, dekat Candi Kalasan.
3. Candi Borobudur, dekat Magelang, didirikan tahun 826 M.
4. Candi Mendut, di sebelah Timur Candi Borobudur, didirikan tahun 809 M.
5. Candi Pawon, merupakan gerbang Candi Borobudur, didirikan tahun 826 M.
6. Gugusan Candi Ngawen, dekat Muntilan.
7. Gugusan Candi Sewu, dekat Prambanan.
8. Gugusan Candi Plaosan, disebelah Timur Candi Sewu.
Literatur-literatur : Kitab Sanghyang Kamahayanikan.
2. Pada Masa Kerajaan Singosari : Candi-candi :
1. Candi Singosari, dekat Malang, tempat pemujaan Raja Kertagama yang merupakan perpaduan antara Tantrayana dan Siwa.
2. Candi Jawi, dekat Prigen, perpaduan Tantrayana dan Siwa.
3. Candi Jabung, dekat Krasaan.
Adanya gelar Dharmadhyaksa Ring Kasogatan (kepala agama Buddha).
3. Pada masa Kerajaan Majapahit : Literatur-literatur : Kitab Sutasoma dan Kitab Kunjarakarna
4. Di pulau Sumatra terdapat juga peninggalan Candi, yakni :
1. Candi Muara Takus, dekat Bangkinang, Propinsi Riau.
2. Candi Portibi-Gunung Tua, dekat Padang sidempuan, propinsi Sumatra Utara.
Masa-masa keemasan mazhab Tantrayana terjadi terutama pada masa berkuasanya raja-raja dari wangsa Syailendra di kerajaan Mataram Purba. Hal itu terbukti dengan bangunan candi Borobudur dan candi-candi lainnya yang bernuansakan Buddha Dharma Tantrayana. Namun sangat disayangkan bahwa perkembangan Tantrayana mengalami masa surut setelah masa Raja Hayam Wuruk. Hal itu terjadi karena terputusnya garis silsilah dan tidak terdapat lagi acharya maupun guru yang mampu membimbing umat dengan baik. Seiring dengan itu, masuknya gama baruke tanah air, yakni agama Islam, juga turut mempengaruhi kemunduran Tantrayana. Sehingga menjelang akhir abad XV, daerah pesisir Utara di pulau Jawa semuanya telah memeluk agama Islam.
Literatur-literatur Buddha Dharma di Indonesia
Berdasarkan pada peninggalan-peninggalandari zaman keemasan agama Buddha pada masa kerajaan-kerajaan, baik di pulau Jawa maupun di pulau Sumatra, dapat kita simpulkan bahwa pada masa-masa tersebut, perkembangan agama Buddha terutama dari mazhab Tantrayana adalah pesat sekali. Apalagi bila kita adakan penelitan terhadap candi Borobudur, yang kita akui sebagai salah satu keajaiban dunia yang masih dapat dinikmati di muka bumi ini.
Pada masa-masa tersebut, literatur-literatur Buddha Dharma telah berkembang sangat pesat. Banyak literatur yang merupakan hasil karya para cendikiawan Buddha Dharma di zamannya. Diantara literature tersebut, antara lain : Sanghyang Kamahayanikan, Sutasoma dan Kunjarakarna.
Kitab Sutasoma
Menurut dr. WK.Dharma, Kitab Sutasoma merupakan karya Mpu Tantular. Adapun ringkasan dari kitab Sutasoma ini adalah sebagai berikut :
Dikisahkan Sanghyang Buddha yang menitis pada putra Prabu Mahaketu, raja Hastina, yang bernama Raden Sotasoma. Setelah dewasa dia sangat rajin beribadah cinta akan agama Buddha (Mahayana). Dia tidak mau dikawinkan dan dinobatkan menjadi raja. Pada suatu malam dia meloloskan diri dari kerajaan, pintu-pintu yang sedang tertutup dengan sendirinya menjadi terbuka untuk memberi jalan keluar pada prabu Sutasoma. Di dalam perjalanannya, Sutasoma tiba pada sebuah candi yang terletak di dalam hutan. Dia berhenti di candi tersebutdan mengadakan samadhi. Kemudian meneruskan perjalanan dan mendaki pegunungan Himalaya dengan diantar oleh beberapa orang pendeta. Mereka tiba si sebuah pertapaan. Diceritakan bahwa para pertapa yang melaksanakan samadhi di pertapaan itu sering mendapat gangguan dari seorang raja raksasa, yang gemar menyantap daging manusia dan bernama Purusada, akhirnya menjadi raksasa penghuni hutan. Tenyata Purusada menderita luka di kakinya dan tak kunjung sembuh.
Para pendeta meminta agar Sutasoma bersedia membunuh Purusada, akan tetapi permintaan tersebut ditolaknya. Dalam melanjutkan perjalanannya, ia mendapart serangan dari raksasa berkepala gajah dan seekor naga. Namun keduanya dapat dia dikalahkan. Ketika sampai disebuah tebing, ia melihat seekor macan betina yang sedang bersiap menyantap anaknya sendiri. Melihat kejadian tersebut, Sutasoma menawarkan diri sebagai pengganti. Maka dihisaplah darahnya oleh macan, dan meninggallah Sutasoma. Namun setelah melihat mayat Sutasoma. Kemudian datanglah Batara Indra untuk menghidupkan kembali Sutasoma. Setelah kejadian tersebut, Sutasoma bersamadhi di dalamsebuah goa. Para dewa mencoba keteguhan tekad sang pertapa tersebut dengan pelbagai godaan. Namun dapat diatasi oleh Sutasoma. Bahkan dalam melaksanakan samadhi, ia dapat menjelma menjadi Buddha Vairocana. Setelah pulih, kembali menjadi Sutasoma dan dirinya berniat untuk pulang ke negerinya. Di dalam perjalanan pulang, ia bertemu dengan bala tentara Purusada yang sedang dikejar olehPrabu Dasabahu. Ternyata ratu ini masih saudara sepupunya sendiri dan ia pun diminta untuk pulang kembali ke negerinya. Setelah kepulangannya, Sutasoma dinikahkan dengan adik Prabu Dasabahu. Setelah selesai perhelatan, ia pun menlanjutkan perjalanan ke Hastina, ia kemudian dinobatkan sebagai raja dan bergelar Prabu Sutasoma.
Pada waktu itu, raksasa Purusada yang bernazar akan mempersembahkan seratus manusia untuk menjadi santapan Batara Kala, bilamana luka di kakinya dapat disembuhkan. Ketika itu, Purusada dapat menawan sembilan puluh sembilan orang raja yang akan dipersembahkan pada Batara Kala. Untukmemperoleh raja ke seratus, Purusada lalu menyamar sebagai seorang pendeta tua yang kemudia berhasil menawan Raja Widarba. Kemudian jumlah ke seratus tawanan tersebut dipersembahkan pada Batara Kala. Namun persembahan tersebut ditolak oleh Batara Kala. Karena menginginkan daging Prabu Sutasoma. Setelah mengetahui duduk persoalan, Prabu Sutasoma bersedia menjadi santapan Batara Kala, asalkan keseratus tawanan lainnya dibebaskan. Kerelaan ini sangat berkenan di hati Batara Kala, bahkan Purusada menjadi terharu. Purusada kemudian bertobat dan berjanji tidak akan makin daging lagi.
Kitab Kunjarakarna
Menurut dr. WK.Dharma, Kitab Kunjarakarna terdiri dari dua redaksi, yakni dalam bentuk Kakawin dan dalam bentuk Prosa. Kitab Kunjarakarna hingga saat ini belum diketahui siapa pengarangnya. Kitab ini isinya antara lain menggambar kan hukuman-hukuman yang diberikan di dalam neraka, dan berisi pujian pada Buddha Vairocana dengan menganggapnya sebagai lambang kebijaksanaan yang tertinggi serta sebagai Guru yang termulia.
Ringkasan narasi dalam Kitab Kunjarakarna sebagaimana telah dikutip, adalah sebagai berikut : Dalam keadaan hati yang bimbang, Kunjarakarna pergi menemui Buddha Vairocana untuk menerima pelajaran Dharma dari beliau. Maka pergilah Kunjara karna menuju Bodhicitta, tempat tinggal Vairocana. Namun sesudah menerima Kunjarakarna,Vairocana menolak permintaannya. Dan pada Kunjarakarna, Vairocana menyatakan agar pergi menghadap Yama, Dewa neraka, supaya dapat mengetahui tentang keadaan neraka, setelah mengetahui keadaan di neraka, barulah Vairocana akan memberikan pelajaran tentang Dharma. Kunjarakarna mengikuti nasehat Vairocana, dan pergi menghadap Yama. Sesudahnya bertemu, kemudian menguraikan maksud kedatangannya, Yama kemudian memberikan ilmu-ilmu yang diperlukan.
Setelah mendengar uraian-uraian Yama, Kunjarakarna melihat sebuah ketel besar yang sedang dipersiapkan untuk menghukum orang. Lalu ia menanyakan pada Yama, untuk siapa ketel tersebut dipersiapkan Jawaban Yama sangat mengejutkan, karena ketel tersebut dipersiapkan untuk Purnawijaya,seorang Widyadhara, yang tak lain adalah temannya sendiri. Sesudah mendapatkan perintah dari Yama, lalu segera kembali menjumpai Buddha Vairocana, setelah itu Kunjarakarna pun meninggalkan dunia neraka.
Kunjarakarna tidak segera menghadap Vairocana, dan malah pergi menemui temannya, Purnawijaya dengan maksud memberitahukan pada Purnawijaya tentang kejadian apa yang telah dilihatnya di dunia neraka. Setelah memperoleh berita dari Kunjarakarna, Purnawijaya sangat terkejut dan meminta nasehatnya. Lalu Kunjarakarna menjawab, bahwa ia tidak dapat menolong Purnawijaya, karena diri Purnawijayabelum dibersihkan dari dosa-dosa yang telah diperbuat. Ia kemudian mengajak Purnawijaya untuk bersama-sama menemui Vairocana di Bodhicitta.
Sesampai di Bodhicitta, Kunjarakarna menyuruh Purnawijaya untuk bersembunyi terlebih dahulu. Sedangkan dirinya menghadap Vairocana lebih dahulu. Setelah memohon pada Vairocana, agar diberikan pelajaran tentang ilmu kesempurnaan hidup untuk dapat mencapai kebahagiaan, sambil menyinggung nyinggung tentang keadaan Purnawijaya. Setelah menerima pelajaran dari Vairocana, ia pun mohon diri dan kembali ke tempat Purnawijaya menyembunyikan diri.
Kemudian tibalah giliran Purnawijaya untuk menghadap Vairocana untuk mengajukan permohonan. Oleh Vairocana, Purnawijaya kemudian diberikan pelajaran dan menerima pelajaran tersebut, segeralah lenyap semua nafsu yang melekat pada dirinya yang menyebabkan ia berbuat dosa. Walupun demikian, Purnawijaya belum dapat tertolong dari maut. Oleh karena dosa-dosa yang pernah diperbuatnya, akhirnya Purnawijaya masuk neraka, tetapi tak akan lama di dunia neraka, hanya sepuluh hari saja. Hal itu perlu untuk membersihkan diri dari dosa-dosa yang pernah diperbuatnya. Setelah menerima pelajaran dari Vairocana, terhiburlah hati Purnawijaya. Kemudian dengan semangatnya Purnawijaya berlatih keras dalam samadhi dan dhyana, sesuai dengan pelajaran yang telah diterima dari Vairocana. Didampingi istrinya, Gandhawati, Purnawijaya lalu berpesan, apabila ajalnya tiba, istrinya yang harus mengurus dan menjaga mayatnya selama sepuluh hari, karena setelah sepuluh hari ia akan bangun kembali.
Saat yang dinanti-nantikan pun tiba. Jiwa meninggalkan tubuh, diikuti oleh sebuah bayangan yang merupakan akibat dosa yang telah diperbuatnya, pergi ke dunia neraka dan menghadap pada Yama. Sesamp[ainya dineraka, oleh para pengawal neraka, Purnawijaya segera dilemparkan dalam ketel panas itu. Namun sekonyong-konyong ketel tersebut pecah dan hancur lebur. Dan ditempat tersebut muncul sebatang pohon surga, dikelilingi kolam dan bunga teratai yang amat indah. Para pengawal neraka sangat terkejut dan melaporkan kejadian tersebut pada Yama.
Kemudian bertanyalah Yama pada Purnawjaya tentang kejadian tersebut, setelah mendapatkan penjelasan dari Purnawijaya, yama lalu mengijinkan Purnawijaya untuk kembali ke asal(tubuh)nya. Setelah bangun kembali, Purnawijaya lalu memangggil semua Widyadhara dan Widyadhari untuk menceritakan apa yang telah terjadi. Kemudian ia mengajak mereka semua untuk menghadap Vairocana dan meyampaikan puja dan puji untukNya.
Pada saat hampir bersamaan,semua dewa, seperti Indra, Waruna dan lain-lainnya mendatangi Yama untuk menanyakan apa yang telah terjadi. Setelah mendapatkan penjelasan dari Yama, para dewa kemudian menghadap Vairocana untuk memohon penjelasan. Dengan suka hati Vairocana lalu menceritakan kisah Kunjarakarna dan Purnawijaya, mengingatkan para dewa pada ilmu kenyataan itu. Setelah mendapatkan penjelasan dari Vairocana, mereka pun kembali ke alam sorga. Setelah mengalami benyak peristiwa dan pelajaran, Kunjarakarna dan Purnawijaya akhirnya bersama-sama melanjutkan samadhi di kaki gunung Mahameru. Setelah bersamadhi selama dua belas tahun, mereka kemudian naik ke sorga Siddha.
Kitab Sanghyang Kamahayanikan
Sanghyang Kamahayanikan adalah merupakan sebuah literature agama Buddha yang sangat erat hubungannya dengan agama Buddha mazhab Tantrayana di Indonesia. Kitab Sanghyang Kamahayanikan ini seluruhnya berisi 129 ayat. Bagi sebagian besar umat Buddha. Isi dari kitab tersebut masih merupakan suatu kendala untuk dimengerti dan berada di luar kemampuan pikiran mereka.
Menurut penelitian yang pernah dilakukan, kitab Sanghyang Kamahayanikan tersusun antara tahun 929-947 Masehi oleh Mpu Shri Sambhara Surya Warama dari Jawa Timur, sebagai penerus dari kerajaan Mataram yang bergeser ke Jawa Timur. Naskah tertua dari kitab Sanghyang Kamahayanikan ini diketemukan di pulau Lombok pada tahun 1900 Masehi. Naskah ini oleh prof.Yunboll kemudian dibahas pada tahun 1908.dan diterjemahkan kedalam bahasa Belanda oleh, J.deKatt pada tahun 1940. setelah itu,naskah tersebut diteliti lagi oleh Prof.Wuff. Selanjutnya, naskah tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh I Gusti Bagus Sugriwa.
Kemudian oleh Tim Penerjemah Kitab Suci Agama Buddha Ditura Buddha ~Ditjen Bimas Hindu dan Buddha, Departemen Agama RI. Kitab Sanghyang Kamahayanikan ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan merupakan hasil yang lebih baik dari terjemahan-terjemahan sebelumnya.
Menurut dr.DK.Widya, isi kitab Sanghyang Kamahayanikan ini mengajarkan bagaimana seseorang mencapai Kebuddhaan, di mana seorang siswa pertama -tama melaksanakan Paramita-paramita, kemudian dijelaskan Paramaguhya dan Mahaguhya. Selain itu dijelaskan juga falsafah Adwaya yang mengatasi dualisme”ada” dan “tidak ada”.
Disamping itu, dapat diperoleh tambahan informasi berupa hasil wawancara dengan dua orang tokoh Tantrayana, yakni YA. Rinpoche Zurmang Garwang dari Sikkim, India dan YA.Rinpoche Losang Ngudup dari Mysore,India. YA.Rinpoche Zurmang Garwang adalah seorang pemimpin dari Dharma Chakra Centre yang terletak di Rumtek. East Sikkim, India. Menurut keterangan, beliau diyakini telah tumimbal lahir sebanyak tiga belas kali dan penganut Tantra, baik di Sikkim dan di Tibet mengkonsumsi jenis makanan nabati (vegetarian) dan hewani. Vinaya yang berpantang makan dari bahan makanan hewani atau yang dikenal dengan ‘vegetarian’ hanya pada kelompok Sangha aliran Mahayana di daratan China saja.
Menurut YA. Rinpoche Zurmang garwanglebih lanjut, setiap rohaniwan Tantra (sering disebut sebagai ‘Lhama’), mereka harus mendalami dahulu dasar-dasar Buddha Dharma yang ada pada mazhab Theravada dan Mahayana, sebelum mereka mendalami Tantrayana. Karena semua pada Buddha Dharma baik pada Theravada, Mahayana dan Tantrayana adalah sama. Mereka hanya berbeda pada cara pengalamannya saja.
YA. Rinpoche Losang Ngudup berasal dari kelompok Ge-lugpa (Yellow Hat Sect /sekte jubah kuning) adalah Ex Abbot (mantan Rektor) pada sera Mahayana Sermey Monastic University, yang terletak di Mysore, Distrik Karnanata-Southern India. Sera Mahayana Sermey Monastic University adalah lembaga pendidikan tinggi yang dikhususkan bagi para rohaniwan Tantrayana sebelum mereka di wisuda (inisiasi) sebagai “Lhama”.
Menurut YA. Rinpoche Losang Ngudup, setiap calon “Rinpoche” harus terlebih dahulu menjadi anggota Sangha, yang dalam Tantrayana disebut sebagai Lhama dan harus mendalami terlebih dahulu Dharma yang ada pada mazhab Tantrayana. Ini adalah informasi yang sama dengan YA. Rinpoche Zurmang Garwang. Menurut beliau lebih lanjut, kunjungan beliau dan rombongan ke Indonesia adalah dalam rangka mencari ‘benang merah’ dengan Tantrayana di Indonesia. Mereka berkeyakinan bahwa Tantrayana pada masa kerajaan-kerajaan dahulu adalah memiliki ‘garis silsilah’(lineage) yang sama dengan mereka, yakni melalui YA. Atissa Srinyana Dipankara. YA. Atissa adalah seorang Rinpoche yang pernah menetap di Sriwijaya (P.Sumatera) dan berguru pada YA. Dharmakirti atau Dharmaphala. YA.Atissa tiba di Sriwijaya pada usia 31 tahun dan beliau menetap di sana sekitar duabelas tahun lamanya. Menurut YA. Rinpoche Losang Ngudup, YA. Rinpoche Atissa telah menanamkan semangat bagi kekuatan spiritual Tantrayana di Tibet

Senin, 21 Mei 2012

Asal Mula Kedatangan Agama Islam di Indonesia

Bahasa merupakan nilai tertinggi dari suatu peradaban. Suatu bangsa dipengaruhi nilai tertentu jika bahasanya dipengaruhi oleh nilai tersebut. Bahasa Indonesia banyak dipengaruhi oleh bahasa Arab (bahasa Al-Qur’an) contohnya kata ibarat yang kata dasarnya dari ibrah ini yang bermakna pelajaran dan masih banyak lagi bahasa indonesia yang berasal dari bahasa Arab. Ini membuktikan bahwa budaya Indonesia sudahdipengaruhi oleh budaya islami.
Sejarah masuknya Islam di Indonesia melalui babak – babak yang penting:
1. Babak pertama, abad 7 masehi (abad 1 hijriah).
Pada abad 7 masehi, Islam sudah sampai ke Nusantara. Para Dai yang datang ke Indonesia berasal dari jazirah Arab yang sudah beradaptasi dengan bangsa India yakni bangsa Gujarat dan ada juga yang telah beradaptasi dengan bangsa Cina, dari berbagai arah yakni dari jalur sutera (jalur perdagangan) dakwah mulai merambah di pesisir-pesisir Nusantara.
Sejak awal Islam tidak pernah membeda-bedakan fungsi seseorang untuk berperan sebagai dai (juru dakwah). Kewajiban berdakwah dalam Islam bukan hanya kasta (golongan) tertentu saja tetapi bagi setiap masyarakat dalam Islam. Sedangkan di agama lain hanya golongan tertentu yang mempunyai otoritas menyebarkan agama, yaitu pendeta. Sesuai ungkapan Imam Syahid Hasan Al-Bana “ Nahnu du’at qabla kulla syai“ artinya kami adalah dai sebelum profesi-profesi lainnya.
Sampainya dakwah di Indonesia melalui para pelaut-pelaut atau pedagang-pedagang sambil membawa dagangannya juga membawa akhlak Islami sekaligus memperkenalkan nilai-nilai yang Islami. Masyarakat ketika berbenalan dengan Islam terbuka pikirannya, dimuliakan sebagai manusia dan ini yang membedakan masuknya agama lain sesudah maupun sebelum datangnya Islam. Sebagai contoh masuknya agama Kristen ke Indonesia ini berbarengan dengan Gold (emas atau kekayaan) dan glory (kejayaan atau kekuasaan) selain Gospel yang merupakan motif penyebaran agama berbarengan dengan penjajahan dan kekuasaan. Sedangkan Islam dengan cara yang damai.
Begitulah Islam pertama-tama disebarkan di Nusantara, dari komunitas-komunitas muslim yang berada di daerah-daerah pesisir berkembang menjadi kota-kota pelabuhan dan perdagangan dan terus berkembang sampai akhirnya menjadi kerajaan-kerajaan Islam dari mulai Aceh sampai Ternata dan Tidore yang merupakan pusat kerajaan Indonesia bagian Timur yang wilayahnya sampai ke Irian jaya.
2. Babak kedua, abad 13 masehi.
Di abad 13 Masehi berdirilah kerajaan-kerajaan Islam diberbagai penjuru di Nusantara. Yang merupakan moment kebangkitan kekuatan politik umat khususnya didaerah Jawa ketika kerajaan Majapahit berangsur-angsur turun kewibawaannya karena konflik internal. Hal ini dimanfaatkan oleh Sunan Kalijaga yang membina di wilayah tersebut bersama Raden Fatah yang merupaka keturunan raja-raja Majapahit untuk mendirikan kerajaan Islam pertama di pulau Jawa yaitu kerajaan Demak. Bersamaan dengan itu mulai bermunculan pula kerajaan-kerajaan Islam yang lainnya, walaupun masih bersifat lokal.
Pada abad 13 Masehi ada fenoma yang disebut dengan Wali Songo yaitu ulama-ulama yang menyebarkan dakwah di Indonesia. Wali Songo mengembangkan dakwah atau melakukan proses Islamisasinya melalui saluran-saluran:
  • a) Perdagangan
  • b) Pernikahan
  • c) Pendidikan (pesantren)
Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang asli dari akar budaya indonesia, dan juga adopsi dan adaptasi hasanah kebudayaan pra Islam yang tidak keluar dari nilai-nilai Islam yang dapat dimanfaatkan dalam penyebaran Islam. Ini membuktikan Islam sangat menghargai budaya setempat selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam.
  • d) Seni dan budaya
Saat itu media tontonan yang sangat terkenal pada masyarakat jawa kkhususnya yaitu wayang. Wali Songo menggunakan wayang sebagai media dakwah dengan sebelumnya mewarnai wayang tersebut dengan nilai-nilai Islam. Yang menjadi ciri pengaruh Islam dalam pewayangan diajarkannya egaliterialisme yaitu kesamaan derajat manusia di hadapan Allah dengan dimasukannya tokoh-tokoh punakawam seperti Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong.
Para Wali juga menggubah lagu-lagu tradisional (daerah) dalam langgam Islami, ini berarti nasyid sudah ada di Indonesia ini sejak jaman para wali. Dalam upacara-upacara adat juga diberikan nilai-nilai Islam.
  • e) Tasawwuf
Kenyatan sejarah bahwa ada tarikat-tarikat di Indonesia yang menjadi jaringan penyebaran agama Islam.
3. Babak ketiga, masa penjajahan Belanda.
Pada abad 17 masehi tepatnya tahun 1601 datanglah kerajaan Hindia Belanda kedaerah Nusantara yang awalnya hanya berdagang tetapi akhirnya menjajah. Belanda datang ke Indonesia dengan kamar dagangnya yakni VOC, semejak itu hampir seluruh wilayah nusantara dijajah oleh Hindia Belanda kecuali Aceh. Saat itu antar kerajaan-kerajaan Islam di nusantara belum sempat membentuk aliansi atau kerja sama. Hal ini yang menyebabkan proses penyebaran dakwah terpotong.
Dengan sumuliayatul (kesempurnaan) Islam yang tidak ada pemisahan antara aspek-aspek kehidupan tertentu dengan yang lainnya, ini telah diterapkan oleh para Ulama saat itu. Ketika penjajahan datang, mengubah pesantren-pesantren menjadi markas-markas perjuangan, santri-santri (peserta didik pesantren) menjadi jundullah (pasukan Allah) yang siap melawan penjajah sedangkan ulamanya menjadi panglima perangnya. Hampir seluruh wilayah di Indonesia yang melakukan perlawanan terhadap penjajah adalah kaum muslimin beserta ulamanya.
Potensi-potensi tumbuh dan berkembang di abad 13 menjadi kekuatan perlawanan terhadap penjajah. Ini dapat dibuktikan dengan adanya hikayat-hikayat pada masa kerajaan-kerajaan Islam yang syair-syairnya berisikan perjuangan. Ulama-ulama menggelorakan Jihad melawan kaum kafir yaitu penjajah Belanda. Belanda mengalami kewalahan yang akhirnya menggunakan strategi-strategi:
  • Politik devide et impera, yang pada kenyataannya memecah-belah atau mengadu domba antara kekuatan Ulama dengan adat contohnya perang Padri di Sumatera Barat dan perang Diponegoro di Jawa.
  • Mendatangkan Prof. Dr. Snouk Cristian Hourgonye alias Abdul Gafar seorang Guru Besar keIndonesiaan di Universitas Hindia Belanda juga seorang orientalis yang pernah mempelajari Islam di Mekkah, dia berpendapat agar pemerintahan Belanda membiarkan umat Islam hanya melakukan ibadah mahdhoh (khusus) dan dilarang berbicara atau sampai melakukan politik praktis. Gagasan tersebut dijalani oleh pemerintahan Belanda dan salah satunya adalah pembatasan terhadap kaum muslimin yang akan melakukan ibadah Haji karena pada saat itulah terjadi pematangan pejuangan terhadap penjajahan.
4. Babak keempat, abad 20 masehi
Awal abad 20 masehi, penjajah Belanda mulai melakukan politik etik atau politik balas budi yang sebenarnya adalah hanya membuat lapisan masyarakat yang dapat membantu mereka dalam pemerintahannya di Indonesia. Politik balas budi memberikan pendidikan dan pekerjaan kepada bangsa Indonesia khususnya umat Islam tetapi sebenarnya tujuannya untuk mensosialkan ilmu-ilmu barat yang jauh dari Al-Qur’an dan hadist dan akan dijadikannya boneka-boneka penjajah. Selain itu juga mempersiapkan untuk lapisan birokrasi yang tidak mungkin pegang oleh lagi oleh orang-orang Belanda. Yang mendapat pendidikanpun tidak seluruh masyarakat melainkan hanya golongan Priyayi (bangsawan), karena itu yang pemimpin-¬pemimpin pergerakan adalah berasalkan dari golongan bangsawan.
Strategi perlawanan terhadap penjajah pada masa ini lebih kepada bersifat organisasi formal daripada dengan senjata. Berdirilah organisasi Serikat Islam merupakan organisasi pergerakan nasional yang pertama di Indonesia pada tahun 1905 yang mempunyai anggota dari kaum rakyat jelata sampai priyayi dan meliputi wilayah yang luas. Tahun 1908 berdirilah Budi Utomo yang bersifat masih bersifat kedaerahan yaitu Jawa, karena itu Serikat Islam dapat disebut organisasi pergerakan Nasional pertama daripada Budi Utomo.
Tokoh Serikat Islam yang terkenal yaitu HOS Tjokroaminoto yang memimpin organisasi tersebut pada usia 25 tahun, seorang kaum priyayi yang karena memegang teguh Islam maka diusir sehingga hanya menjadi rakyat biasa. Ia bekerja sebagai buruh pabrik gula. Ia adalah seorang inspirator utama bagi pergerakan Nasional di Indonesia. Serikat Islam di bawah pimpinannya menjadi suatu kekuatan yang diperhitungkan Belanda. Tokoh-tokoh Serikat Islam lainnya ialah H. Agus Salim dan Abdul Muis, yang membina para pemuda yang tergabung dalam Young Islamitend Bound yang bersifat nasional, yang berkembang sampai pada sumpah pemuda tahun 1928.
Dakwah Islam di Indonesia terus berkembang dalam institusi-institusi seperti lahirnya Nadhatul Ulama, Muhammadiyah, Persis, dan lain-lain. Lembaga-lembaga ke-Islaman tersebut tergabung dalam MIAI (Majelis Islam ‘Ala Indonesia) yang kemudian berubah namanya menjadi MASYUMI (Majelis Syura Muslimin Indonesia) yang anggotanya adalah para pimpinan institusi-institusi ke-Islaman tersebut.
Di masa pendudukan Jepang, dilakukan strategi untuk memecah-belah kesatuan kekuatan umat oleh pemerintahan Jepang dengan membentuk kementrian Sumubu (Departemen Agama). Jepang meneruskan strategi yang dilakukan Belanda terhadap umat Islam. Ada seorang Jepang yang faham dengan Islam yaitu Kolonel Huri, ia memotong koordinasi ulama-ulama di pusat dengan di daerah, sehingga ulama-ulama di desa yang kurang informasi dan akibatnya membuat umat dapat terbodohi.
Pemerintahan pendudukan Jepang memberikan fasilitas untuk kemerdekaan Indonesia dengan membentuk BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dan dilanjuti dengan PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dan lebih mengerucut lagi menjadi Panitia Sembilan, Panitia ini yang merumuskan Piagam Jakarta tanggal 22 Juni 1945. Piagram Jakarta merupakan konsensus tertinggi untuk menggambarkan adanya keragaman Bangsa Indonesia yang mencari suatu rumusan untuk hidup bersama. Tetapi ada kalimat yang kontroversi dalam piagam ini yaitu penghapusan “7 kata “ lengkapnya kewajiban menjalankan syariat Islam bagi para pemeluk-pemeluknya yang terletak pada alinea keempat setelah kalimat Negara berdasarkan kepada Ketuhan Yang Maha Esa.
Babak kelima, abad 20 & 21.
Pada babak ini proses dakwah (Islamisasi) di Indonesia mempunyai ciri terjadinya globalisasi informasi dengan pengaruh-pengaruh gerakan Islam internasional secara efektif yang akan membangun kekuatan Islam lebih utuh yang meliputi segala dimensinya. Sebenarnya kalau saja Indonesia tidak terjajah maka proses Islamisasi di Indonesia akan berlangsung dengan damai karena bersifat kultural dan membangun kekuatan secara struktural. Hal ini karena awalnya masuknya Islam yang secara manusiawi, dapat membangun martabat masyarakat yang sebagian besar kaum sudra (kelompok struktur masyarakat terendah pada masa kerajaan) dan membangun ekonomi masyarakat. Sejarah membuktikan bahwa kota-kota pelabuhan (pusat perdagangan) yang merupakan kota-kota yang perekonomiannya berkembang baik adalah kota-kota muslim. Dengan kata lain Islam di Indonesia bila tidak terjadi penjajahan akan merupakan wilayah Islam yang terbesar dan terkuat. Walaupun demikian Allah mentakdirkan di Indonesia merupakan jumlah peduduk muslim terbesar di dunia, tetapi masih menjadi tanda tanya besar apakah kualitasnya sebanding dengan kuantitasnya.

Asal Mula Kedatangan Agama Kristen di Indonesia

[Image: lgchristianity101.jpg]


Sejarah Agama Kristen di Indonesia

Perkembangan Agama Kristen di Indonesia dapat dibagi menjadi 3 zona waktu.

1. Sebelum kolonialisme Belanda
2. Saat kolonialisme Belanda
3. Setelah kolonialisme Belanda

Sebelum Kolonialisme Belanda

Agama Katolik untuk pertama kalinya masuk ke Indonesia pada bagian pertama abad ke-7 di Sumatera Utara. Kota Barus yang dahulu disebut Pancur dan saat ini terletak di dalam Keuskupan Sibolga di Sumatera Utara adalah tempat kediaman umat Katolik tertua di Indonesia

Saat Kolonialisme Belanda

Kristen Katolik tiba di Indonesia saat kedatangan bangsa Portugis, yang kemudian diikuti bangsa Spanyol yang berdagang rempah-rempah, Katolik Roma pertama tiba pada tahun 1534, di kepulauan Maluku melalui orang Portugis yang dikirim untuk eksplorasi. Fransiskus Xaverius, misionaris Katolik Roma dan pendiri Ordo Yesuit bekerja di kepulauan Maluku pada tahun 1546 sampai tahun 1547. Namun ketika Belanda mengalahkan Portugis tahun 1605, Belanda mengusir misionari-misionari Katolik dan memperkenalkan Kristen Protestan (dari aliran Calvinist Dutch Reformed Church), sehingga terpengaruh pada ajaran Calvinisme dan Lutheran.

Perkembangan Kekristenan di Indonesia pada jaman itu cukup lambat. Hal ini dikarenakan ajaran Calvinist merupakan aliran agama Kristen yang memerlukan pendalaman Alkitab yang mendalam, sementara edisi Alkitab saat itu belum ada yang berbahasa Indonesia (bahasa Belanda). Lagipula, VOC sebagai kendaraan Belanda untuk masuk dan menguasai Indonesia saat itu adalah sebuah perusahaan sekuler dan bukan perusahaan yang cukup religius, sehingga tidak mendukung penyebaran agama yang dilakukan oleh misionaris Belanda sendiri. Setelah pengaruh VOC mulai tenggelam pada tahun 1799, pemerintah Belanda mulai memperbolehkan penyebaran agama dengan lebih leluasa. Orang Kristen aliran Lutheran dari Jerman yang lebih toleran dan tidak memaksa pemeluknya untuk mempelajari agama Kristen dengan sedemikian dalam, mulai memanfaatkan perijinan tersebut untuk mulai menyebarkan agama di antara orang Batak di Sumatera pada tahun 1861, dan misionari Kristen Belanda dari aliran Rhenish juga menyebarkan agama di Kalimantan Tengah dan Sulawesi Tengah

Setelah Kolonialisme Belanda

Pada abad ke 20 setelah Belanda pergi dari Indonesia, agama Kristen dan Katolik mulai berkembang pesat. Hal ini dimulai oleh sebuah keadaan pada tahun 1965, ketika terjadi peralihan kekuasaan Presiden Soekarno kepada Presiden Soeharto. Saat itu, Komunisme (dan Atheisme) merupakan hal yang dilarang oleh pemerintah. Semua orang-orang yang tidak beragama, langsung dicap Atheis, dan dengan demikian sangat mudah untuk dituduh sebagai pengikut Komunis. Saat itu, gereja dari berbagai aliran mengalami pertumbuhan jemaat yang pesat, terutama dari orang-orang (sebagian besar beretnis Tionghoa yang berasal dari Cina, yang merupakan negara Komunis) yang merasa tidak nyaman dengan kebijakan pemerintah mengenai Komunisme dan Atheisme pada saat itu.

Pada akhir abad ke 20 sampai awal abad 21, banyak misionaris dari Amerika yang menyebarkan aliran Evangelican dan Pentecostal. Aliran yang sering disebut "Karismatik" ini merupakan aliran yang dianggap "modern" karena menggabungkan antara Kristen tradisional, dengan pola pikir modern pada jaman ini

Cabang-cabang utama


Image has been scaled down 16% (650x253). Click this bar to view original image (771x300). Click image to open in new window.
[Image: christianlineageid.png]



Agama Kristen termasuk banyak tradisi agama yang bervariasi berdasarkan budaya, dan juga kepercayaan dan aliran yang jumlahnya ribuan. Selama dua milenium, Kekristenan telah berkembang menjadi tiga cabang utama:

* Katolik (denominasi tunggal Kristen terbesar, termasuk Gereja Katolik ritus Timur, dengan satu koma dua milyar penganut total, lebih dari setengah dari jumlah total penganut agama Kristiani)
* Protestanisme (terdiri dari berbagai macam denominasi dan pemikir dengan berbagai macam penafsiran kitab suci, termasuk Lutheranisme, Anglikanisme, Calvinisme, Pentakostalisme, Methodis, Gereja Baptis, Karismatik, Presbyterian, Anabaptis, dsb.)
* Ortodoks Timur (denominasi tunggal Kristen terbesar kedua, dan merupakan denominasi Kristen terbesar di Eropa timur)

Selain itu ada pula berbagai gerakan baru seperti Bala Keselamatan, Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh, Mormon, Saksi-Saksi Yehuwa, serta berbagai aliran yang muncul pada akhir abad ke-19 maupun abad ke-20, dll.

Rabu, 16 Mei 2012

Tips Meredakan Sakit Hati

Pupupupu.... putus lagi.., nananana nangis lagi... hehehe... jadi inget lagunya azis gagap, dan apasih.com inget juga kata terkenal dari cupatkai yang mengatakan "beginilah cinta.. deritanya tiada pernah berakhir" cieeeehh... seerrrr!

yah.. namanya juga kisah cinta, gak melulu seneng terus, ada saat dimana kita harus menghadapi yang namanya putus cinta.. apalagi bagi kalian yang memanganggap cinta sekedar cinta monyet.. tapi admin apasih.com sekarang bukan mau ngeledekin kalian yang putus cinta, admin disini malah akan memberikan tips bagaimana meredakan sakit hati saat putus cinta... oke, disimak ya :)

1. Hindari dia sepenuhnya
Jika kamu adalah orang2 yang susah melupakan sesorang maka ada baiknya kamu harus menghindari semua kontak yang mungkin terhubung ke mantan kamu.

2. Nikmati Sakitnya
Aneh juga kedengarannya, tapi tak apa. inilah sebuah proses bahwa kamu sedang berada dalam proses penyembuhan. apa yang kamu dapat dari hal ini adalah jika kamu dapat melewatinya maka kamu akan menjadi sosok yang tegar dikemudian hari. hidup ini kejam kawan-kawan, kamu perlu mendapat pelajaran berharga untuk dapat mengarungi hidup ini kedepannya.

3. Alihkan Perhatian
Ini adalah pesan yang mungkin sering kamu dengar dari orang2 disekitar kamu saat mengalami patah hati. benar kata mereka jangan selalu memikirkan apa yang biasa kalian lakukan, mendengarkan lagu kesukaannya adalah hal paling buruk jika ingin melupakan sesorang. cobalah sekali-kali mencari kegiatan lain yang gak ada hubungannya dengan mantan kamu. itu akan banyak membantu.

4. Jangan umbar cerita
Curhat kepada sesorang mungkin adalah hal tepat untuk melampiaskan perasaan kamu, namun jangan terlalu banyak cerita kepada orang lain, cukup kepada orang yang paling dekat dengan kamu, hal ini dihindari karena jika kamu terlalu banyak umbar cerita tentang kandasnya sebuah cinta sejati.. huhuhuhuuu.... pasti akhirnya nangis lagi deh...

5. Dekatkan diri dengan keluarga
Keluarga adalah pihak yang selalu berada dibalakang kamu saat kamu kesulitan, begitu juga dengan soal percintaan, ada banyak cinta di keluarga mereka akan bantu kamu melupakannya.

6. Buang segala kenangan
Jika kamu putus sama doi karena doi emang 4ssh0le jangan pernah berharap dia kembali lagi sama kamu. karena dia pasti akan mengulangi hal yang sama dikemudian hari. ka dari itu buang semua yang sekiranya akan mengingatkan kamu dengan dia.

7. Santai saja
Intinya, cinta putus bukan berarti itu akhir dunia bukan? ada hal lain yang lebih menyenangkan. untuk kalian yang cewek biasanya habis putus cinta pasti akan buru-buru cari pasangan baru untuk dijadikan pelampiasan. namun itu bukanlah hal yang bijak.. hati2 terkecoh untuk kedua, ketiga, keempat dan seterusnya.. kamu akan tambah sakit. jalanin aja sementara sampai kamu mendapatkan seseorang yang tepat dikemudian hari :)